Latest Entries »

Saat mencapai umur 26 tahun, aku…

Saat mencapai umur 1 tahun, aku dalam belaian, manjaan dan perlindungan kasih sayang keluarga.

Saat mencapai umur 2 tahun, aku selalu menirukan hal-hal yang diajarkan oleh orangtuaku dan mas agung (kakakku).

Saat mencapai umur 3 tahun, aku merasakan berbagai usilan-jahilan kakakku padaku yang kadang aku tidak suka dan bahkan sampai aku menangis.

Saat mencapai umur 4 tahun, aku belajar membaca, menulis, bernyanyi, menari.

Saat mencapai umur 5 tahun, aku iri dengan teman-temanku yang selalu dijemput, dirapihkan+disipakan segala macam ketika sebelum/selesai berenang. Sedangkan aku? Sendiri.

Saat mencapai umur 6 tahun, aku menjadi pemimpin paduan suara di TK, ketua pemimpin gerak jalan, pemimpin upacara 17 agustus dihadapan murid TK sekecamatan Cilandak. Aku sempat mengatakan kepada ibu “bu nilainya renny 9 kan yaa, soalnya tadi sempet salah ngucap 1 x (means 10-1 kesalahan = 9…hahaha dodol)” . Selain itu, aku mengikuti pentas menari & menjadi murid TK teladan.

Saat mencapai umur 7 tahun, aku belajar tanggung jawab atas barang milik orang lain. Aku ikut serta dalam pentas menari di sekolah. Aku diomelin oleh kakak kelasku karena lupa mengembalikan kostumnya dan tertinggal di ruang uks beberapa hari.

Saat mencapai umur 8 tahun, aku merasa kecewa karena nilai matematikaku 0, lalu diomelin sama ibu. Aku belajar memaafkan dan menjaga hubungan baik antar teman. Kenapa? Aku pernah tidak sengaja tabrakan dengan temen sewaktu maen tak jongkok dan dia terluka.

Saat mencapai umur 9 tahun, aku punya ingin menjadi seorang dokter atau guru seperti ibuku. Aku membuka taman bacaan di samping rumah yang disewa Rp.50,-/majalah. Aku berjualan permen dan es lilin yang dibuat sendiri. Aku bermain layangan yang dibuatkan oleh mas Agung. Kita bermain di atas mesjid atau di atas rumah sampai matahari sudah tidak menampakkan cahayanya. Keliling kampung antar RT naik sepeda bersama teman-teman. Aku membuat tas-tas dari kardus bekas untuk digunakan bermain ibu-ibuan/masak-masakan.

Saat mencapai umur 10 tahun, aku punya mimpi sekolah di luar negeri dan menjadi astronot. Aku sering mengajari bocah-bocah sekitar rumah untuk menulis-membaca-berhitung-mengaji-shalat bersama dengan bermain sebagai guru & murid.

Saat mencapai umur 11 tahun, aku memilih sesuatu yang lebih baik dan berguna untuk diriku, yaitu dengan keluar dari geng cewek-cewek di sekolah.  Selain itu, aku pernah difitnah oleh guruku sendiri dihadapan murid-murid kelas lain, sungguh aku malu sekali.

Saat mencapai umur 12 tahun, aku ingin menjadi anak baik & berprestasi seperti kakakku (mas Agung). Dia adalah abang gw yang paling keren-ganteng. Tapi sayangnya lu itu kadang nyebelin, hehe Tetapi gw tetep sayang sama lu masbro :)

Saat mencapai umur 13 tahun, aku menjadi anak SMP yang kuper (sekolah-pulang-belajar-sekolah-pulang-belajar).

Saat mencapai umur 14 tahun, aku dilema antara kepentingan bermain basket dan belajar (sekolah). Nilai rapotku turun dan diomeli oleh kedua orang tua. Aku sedih, ketika tidak diikutsertakan oleh pelatihku untuk bergabung di pertandingan basket tingkat nasional, padahal aku sudah rajin latihan.

Saat mencapai umur 15 tahun, pertama kalinya nolak cowok. Alasannya? Aku mau belajar untuk masuk SMA unggulan. Orang tuaku tidak mengizinkanku sekolah di SMA 8 atau 70 dengan alasan jauh. Kebetulan abangku juga almamater 34, jadi aku mengikuti jejaknya saja.

Saat mencapai umur 16 tahun, aku punya tekad menjadi juara kelas supaya masuk UI tanpa tes seperti abangku. Aku bergabung di ekskul mading sekolah dan diomelin senior karena males nyari tanda tangan, haha Aku kembali bergabung di tim basket sekolah. Kebetulan teman-teman basketku saat SMA, juga berasal dari SMP yang sama denganku.

Saat mencapai umur 17 tahun, masa terindah : persahabatan & kompak. Sering sekali memenangkan berbagai kompetisi basket di tingkat Jakarta bahkan nasional. Aku memiliki banyak teman di dalam dan luar sekolah.

Saat mencapai umur 18 tahun, terima kasih kepada Allah yang memberikan hidayah dalam menentukan masa depan kuliah. Terima kasih kepada teman-teman seperjuangan menggapai masa depan kuliah (hidup! xii.ipa-1 yang duduk barisan paling kiri). Aku merasakan tangisan bahagia orang tua karena anaknya diterima di UI tanpa tes sama seperti kakaku, itu rasanya surga ^^

Saat mencapai umur 19 tahun, aku merasakan lingkungan perkuliahan yang sangat berbeda dengan masa SMA. Terlalu banyak orang pintar, cerdas, rajin dan paling menyebalkan adalah orang dengan ego individualis. Aku stress di Fasilkom.

Saat mencapai umur 20 tahun, mulai berpikir & muncul jiwa-jiwa idealis. Aku ingin menjadi apa? Kuliah sulit & kurang minat (khususnya programming).

Saat mencapai umur 21 tahun, aku merasakan semakin memiliki banyak peran, semakin besar tanggung jawabnya. Satu periode yang lebih mengorbakan kepentingan umum dari pada kepentingan diri sendiri. IP semester enam yang paling rendah dari semua semester. Alhamdulillah juga, aku mendapat hidayah menggunakan jilbab.

Saat mencapai umur 22 tahun, aku mengalami satu step dalam hidup yang tidak terlupakan, yaitu “kedewasaan, ikhlas, bijaksana, sabar” dalam menyikapi persoalan. Makasih semua yang sudah menemaniku disaat susah. Aku belajar tentang komitmen & kesetiaan, itu harganya sangat mahal.

Saat mencapai umur 23 tahun, aku hanya fokus pada satu hal : lulus predikat cumlaude. Semua ini aku persembahkan untuk kedua orangtuaku tercinta & tersayang. Alhamdulillah tercapai :)

Saat mencapai 24thn, aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku merasa selama ini, hidupku terlalu terpaku sama sosok my older brother yang paling keren dalam hal akademis maupun nonakademis. Aku meninggalkan zona nyaman tetapi fokus kepada hal-hal yang aku cintai (kepuasan batin tercapai). Mencari pekerjaan yang dapat mendukung life management plan in the future.

Saat mencapai 25thn, fokus pada 2 hal :  1. Masterpiece 2. Menemukan rencana hidup yang baru. Cemungudh!

Saat mencapai 26thn, tiada hari tanpa : belajar, bermain, bereksperimen, bekerja, bergaul, bermanfaat, dll (kerja, toefl, gmat, les, dll). Bersyukur memiliki ortu & brother yang punya hati mulia karena memberikan hadiah gak kira-kira, alhamdulillah. The last but not least, i just wanna say, “I miss him so bad. I know he loves me, too. I can feel it from within. Can’t wait to see you soon!

Dedicated to : Orang-orang hebat & tersayang yang selalu menemaniku :)

Beriman

beriman

Afraid

what

This song remind me about my friend who played guitar in blues genre in front of me.

He did it in public place (Gramedia Bookstore), cool!

You make me happy for the last day till today and thank you!

2nd Family in The Office

original

Mesin Waktu

Ok, pernah gak kalian mengalami punya temen dekat >13 tahun tidak bertemu, tidak pernah saling mencari atau menghubungi? Dan kemudian saling bertemu di depan mata. Aku merasa seperti sedang menggunakan mesin waktu. Yup, minggu lalu aku mengalami kejadian ini. Aku surprised mendapat kabar bahwa dia sedang di Jakarta. Seketika kenangan masa lalu muncul ke permukaan.

 

Namanya “Roddie Alexander Frederik”. Roddie lahir di Hawai (WNA officially USA), tetapi his mom & dad are WNI. Dia temen sebangku saat kelas 6 SD. Roddie, yang kalau tidak salah anak baru kelas 4 SD. Seorang anak dari keluarga yang tajirnya kebangetan. Meskipun berasal dari anak orang kaya, aku bisa merasakan sampai hari ini dia bukanlah anak yang sombong apalagi belagu’. Dulu dia sering diminta uang oleh teman-temannya, dan dengan mudahnya dia membagi-bagikan uangnya. Roddie jika pulang sekolah selalu jalan kaki atau dijemput ojek pribadinya. Roddie si bocah kecil kurus dengan rambut cepak, dan tentunya dulu lebih pendek dariku, haha. Meskipun kita duduk semeja dan rumah searah, tetapi kita tidak pernah pulang sekolah bersama. Aku selalu berjalan di sebelah kanan dan dia berjalan di sebelah kiri sepanjang jalan raya Margasatwa.

 

Terakhir pertemuanku dengannya? Itu ketika pengumuman kelulusan SD (2001).
Aku bertanya kepada mama-nya Roddie, “Roddie gimana nilainya, tante?”
Mamanya menjawab sambil tersenyum, “Roddie nilainya kecil,  blablabla…. ~ lupa~.
Aku bertanya, “Terus, Roddie mau ngelanjutin sekolah kemana?”
Mama-nya Roddie menjawab, “Roddie mau ngelanjutin sekolah ke Amerika soalnya papa-nya mau kerja di sana.”
Dan kemudian aku melihat Roddie dan dia juga melihatku. Kita saling salam perpisahan dan tersenyum. *gak nyangka dia mau pindah sejauh itu*”

 

Aku dulu punya geng kecil (Aku, Roddie, Rio, Novia) sewaktu SD dan kita enthusiasm dengan pelajaran Matematika. Kita duduk saling berdekatan. Buat Roddie, pelajaran selain Matematika adalah nothing bahkan tidak peduli karena dia adalah anak pemalas meskipun sebenarnya dia cerdas & kritis. Roddie dan Rio yang suka iseng ngumpetin tasku sampai ke kantin, bahkan sampai ke mushola. Temen kecil yang suka kejar-kejaran & bermain umpet-umpetan, so fun! Roddie sangat suka skateboard, bahkan ketika perpisahan di Ciater, dia berniat akan membawa skateboardnya, haha #dodol *maen skateboard di daerah wisata air panas* Namun sayangnya dia tidak datang. Jadi terakhir pertemuanku dengannya adalah saat pengumuman kelulusan SD.

 

Sempat saja aku mengajak Rio dan beberapa kawan SD untuk reunian, tetapi mereka tidak bisa datang. Aku harus ketemu Roddie karena dia hanya 2,5 minggu di Indonesia. Aku penasaran sudah seperti apa, jadi apa dia sekarang dan tentunya ingin lebih mengenal kehidupannya di US. Kita bertemu di foodcourt PIM 2 jam 13.00. Sambil menunggu, aku bermain handphone. Tiba-tiba ada suara dan seseorang berbadan agak tinggi memelukku dari sebelah kanan #syok. Ok, I know this is western people style. Dan tiba-tiba dia duduk di depanku. Aku seperti bertemu keluarga yang sudah lamaaaaaaa banget gak ketemu. Then, Roddie asked me a question more than once “Apa kabar?” dengan logat American English, haha Seriusan & sumpah ini mimpi!

 

Saat bertemu kemarin, i think almost 50%, we spoke in English to each other. Kita ngobrol 3-4 jam tanpa ada rasa canggung. Aku pikir akan seperti awkward moment karena sudah lamanya kita tidak bertemu, tetapi ternyata tidak. Makan ramen di food court PIM 2, keliling PIM 1-2, menemaninya mencari catur dan menemaniku ke toko buku Kinokuniya. Kita ngobrol membahas pekerjaan, tinggal dimana, kenangan SD, kabar teman-teman, sekolah, kuliah, pacar, keluarga, rencana ke depan, pengalaman hidup, hobi, kesukaan, melakukan hal dodol, kehidupan di US, kehidupan Jakarta yang macet, dll aaah banyak sekali. Yang jelas, kehidupannya memang terlalu bebas & bahkan aku gak tau dia masih shalat atau tidak, atau bahkan mungkin juga sudah melakukan hal-hal yang bukan sebaiknya dilakukan, haha

 

Semoga kita ketemu lagi ya, Rod! Semoga ketemunya di US, amiin :)

with roddie

 

Catatan penting hasil pertemuanku dengannya :

  • Kita gak akan pernah tau apa yang terjadi di masa depan. Jadi senantialah menjaga hubungan baik dengan orang sekitar. Tidak peduli latar belakangnya orang baik, bad boy, miskin, kaya, dll. Semua orang punya pilihan untuk menjadi apa & kita bisa melihat apa hasilnya nanti. Roda selalu berputar.
  • Jangan pernah menjadi orang sombong atau belagu’
  • Ketika uang bukanlah menjadi sumber kebahagiaan, kadang kisah tentang perjuangan hidup itu lebih punya cerita & berkesan. Kita lebih bijak, lebih bersyukur, dan lebih kaya hati melihat dunia, lebih terbuka. Temanku ini memilih ambil risiko hidup susah (tidak bergantung pada orang tua), menikmati hidup dengan berpetualang, lebih suka kerja meskipun dia sebenarnya bisa saja dengan mudah minta uang kepada orangtuanya. Yang terpenting adalah, lakukan apa yang membuat kita bahagia & bertanggung jawab apa yang menjadi pilihan kita.
  • Orang tua sangatlah penting dalam membesarkan karakter seorang anak