Saat mencapai umur 1 tahun, aku dalam belaian, manjaan dan perlindungan kasih sayang keluarga.
Saat mencapai umur 2 tahun, aku selalu menirukan hal-hal yang diajarkan oleh orangtuaku dan mas agung (kakakku)
Saat mencapai umur 3 tahun, aku merasakan berbagai usilan-jahilan kakakku padaku yang kadang aku tidak suka dan bahkan sampai gw menangis.
Saat mencapai umur 4 tahun, aku belajar membaca, menulis, bernyanyi, menari.
Saat mencapai umur 5 tahun, aku iri dengan kehidupan teman-temanku saat TK mereka selalu ditunggu oleh orang tua/pembantu saat ingin dijemput pulang, dirapihkan+disiapkan segala macamnya bahkan setiap selesai berenang. Habis berenang dimandiin sama pembantunya, dipakaiin baju ganti, dll. Sedangkan aku?
Saat mencapai umur 6 tahun, aku merasakan menjadi pemimpin paduan suara di TK, aku menjadi pemimpin upacara 17 agustus dihadapan murid2 TK se kecamatan cilandak dan aku sempet mengatakan kepada ibuku “bu nilainya renny 9 kan yaa, soalnya tadi sempet salah ngucap 1 x (means 10-1 kesalahan = 9…hahaha dodol), aku menjadi ketua lomba gerak jalan mewakili TK-ku tetapi kalah, aku mengikuti lomba manari namun karena aku kurang PD – sering lupa gaya jadi aku sering ngelirik gaya temen sebelahku alias nyontek (hahahaha bocah TK udah kenal nyontek), aku menjadi murid TK teladan padahal seingatku, aku pernah nangisin bocah laki-laki, hahaha (dasar jahanam).
Saat mencapai umur 7 tahun, aku mengetahui betapa pentingnya tanggung jawab atas barang milik orang lain, karena waktu itu aku pernah pentas menari di sekolah dan aku diomelin oleh kakak kelasku karena aku lupa mengembalikanya dan tertinggal di ruang uks beberapa hari.
Saat mencapai umur 8 tahun, aku mengenal begitu pentingnya saling memaafkan dan menjaga hubungan baik antar teman karena aku pernah g sengaja jorokin temen waktu maen tak jongkok dan dia terluka, terusss aku merasakan kekecewaan teramat karena nilai latihan matematikaku 0, terus diomelin dah sama ibu.
Saat mencapai umur 9 tahun, aku ingin bercita-cita menjadi seorang dokter atau seorang guru seperti ibuku. Aku juga sudah belajar bisnis karena aku langganan majalah bobo lalu aku membuka kedai taman bacaan di samping rumah dengan menyewa Rp. 50,- per majalah, selain itu aku pernah menjual permen dengan teman-teman sekitar rumah dan menjual es lilin yang aku buat bersama teman tetanggaku namanya “fadya”. Aku sering bermain layangan dan dibuatkan layangan koang sama mas agung, meski aku gak bisa naikin layangan, kita bermain layangan di atap mesjid atau di atas rumah bahkan kadang sampai matahari sudah tidak menampakkan cahayanya. Maen smack down sama mas agung yang kadang bikin gw kesakitan dan menangis (lagian mau aja dibegoin sama si abang, baru sadar setelah gede). Keliling kampung antar RT naek sepeda sama teman-teman. Bikin tas-tasan dari kardus bekas. Maen ibu-ibuan, masak-masakan sama tetangga, dll.
Saat mencapai umur 10 tahun, aku berandai-andai sekolah di luar negeri dan menjadi astronot, aku juga sering mengajar bocah-bocah di sekitar rumahku sambil bermain guru2an belajar menulis-membaca-berhitung-mengaji.
Saat mencapai umur 11 tahun, aku belajar untuk memilih sesuatu yang lebih baik diantara banyak hal yang berguna untuk diriku dan teman-teman di masa depan, dengan aku keluar dari geng cewek-cewek di sekolah. Selain itu, aku pernah difitnah oleh guruku sendiri dihadapan murid-murid kelas lain, sungguh aku malu sekali.
Saat mencapai umur 12 tahun, aku belajar ilmu berbakti pada orang tua yaitu ingin orang tuaku bangga pada diriku dan aku bisa sehebat sosok yang begitu aku banggakan yang sering dipuja guru-guru karena menang berbagai lomba dan berprestasi dan dia sangat kreatif meski kalau sama gw orangnya kaku-jutek tapi itu kadang-kadang siih yaitu my best brother. Terus terang, sampai hari ini gw ngiri banget sama lu brother. Lu emang abang gw yang paling keren dan paling ganteng tp sayang, kadang-kadang lu itu nyebelin, heheheh…
Saat mencapai umur 13 tahun, aku belajar ilmu beradaptasi dengan lingkungan bangku smp yang begitu berbeda dengan sebelumnya. Saat SMP aku hanya menjadi anak yang kuper, sekolah-pulang-sekolah-pulang dan belajar dan belajar.
Saat mencapai umur 14 tahun, aku merasakan dilema kehidupan, antara kepentingan basket dan sekolah. Nilai rapotku turun dan diomelin sama orang tuaku, mereka menganjurkan aku untuk keluar dari tim basket sekolah, tetapi aku tetap kekeh, kalau aku mau keluar tim kalau sudah kelas 3 smp. Namun suatu ketika aku sedih, karena saat kelas 3 aku tidak dikutsertakan oleh pelatihku untuk mengikuti pertandingan basket tingkat nasional di kelapa gading, padahal aku sudah sering latihan, namun aku tau mengapa aku tidak dipilih, karena aku itu kadang tidak PD kalau bermain, terus terang, itu dia yang bikin aku g maju-maju.
Saat mencapai umur 15 tahun, pertama kalinya menolak halus laki-laki yang pdkt kepadaku padahal aku dulu pernah suka, kenapa tiba-tiba aku berubah pikiran? karena aku pikir belum saatnya aku melakukan hal itu dan yang paling penting adalah belajar demi masa depan yang lebih baik dan bisa masuk sekolah SMA unggulan. Dan akhirnya aku diterima di SMAN 34 Jakarta, sesungguhnya aku ingin di SMA 8 atau 70, tapi apa daya, orang tua tidak mengizinkan karena jauh atau 70 yang terkenal tawuran dan anak-anaknya gaul2, selain itu abangku juga almamater SMAN 34 Jakarta.
Saat mencapai umur 16 tahun, aku punya tekad harus juara kelas untuk memudahkanku mendapat formulir pmdk. Jadi kegiatanku hanya belajar. Selain itu aku mengikuti ekskul mading sekolah dan aku pernah diomelin senior karena aku males banget nyari tanda-tangan dan senior rese mintanya macem-macem siih suruh bikin inilaah itulaaah, jadi bikin gw tambah males banget. Lalu akhirnya aku tidak betah dan keluar dan kemudian diajakin anak-anak basket joinan lagi di tim basket sekolah. Secara anak-anak basket di sma-ku juga rata-rata berasal dari smpku sebelumnya.
Saat mencapai umur 17 tahun, aku merasakan bebasnya menjadi anak SMA, merasakan persahabatan, pergaulan kawula muda SMA, kerjasama tim memenangkan berbagai kompetisi basket dan musuh terberat kita adalah SMA 3 dan PSKD 1, banyak teman di dalam atau di luar sekolah, keakraban pertemanan SMA, dll. Gw g akan pernah lupa…Indah banget dah masa2 ini. Masa–masa menjadi pelajar yang bandel.
Saat mencapai umur 18 tahun, aku merasakan betapa sayangnya 4JJI pada diriku karena sepertinya aku mendapatkan hidayah dalam memilih masa depan kuliah. Makasih buat teman-teman seperjuangan kelas 3 SMA, lu semua emang keren banget, sampai sekarang gw belum nemuin kaya kalian (bojey-mas rae-bajay-iqbal-kiki-okeey-dll, hidup barisan paling kiri kelas xii-ipa1…!!, damn kangen guaaa). Gw merasakan tangisan bahagia kedua orangtuaku karenaku, sungguh itu rasanya berasa syurga ^^
Saat mencapai umur 19 tahun, aku merasakan lingkungan perkuliahan yang sangat berbeda dengan masa SMA ku. Terkadang aku merasakan, ini bukan lingkunganku, aku ingin mengembangkan sosial soft skillku, aku stress di Fasilkom, aku iri dengan orang-orang pintar, cerdas dan rajin.
Saat mencapai umur 20 tahun, aku seperti memiliki rasa idealis, aku belajar banyak hal semenjak menduduki masa kuliah. Aku merasa gambling, sebenarnya aku ingin jadi apa. Terkadang aku berpikir, percuma punya prestasi tinggi2, percuma punya derajat tinggi2, percuma punya uang banyak kalau sampai hari ini hidupnya tidak bernilai bermanfaat buat orang-orang sekitarnya, percuma kalau kita hanya terus memikirkan diri sendiri. Sebegitukah hasrat ini?? Rasanya aku pengen triiiiaaaaaaaaaaaak, argggggggggggggggghhhh!!! G tau pengen jadi apaaaan? Semakin mendekati lulus, semakin mendekati realita.
Saat mencapai umur 21 tahun, aku merasakan bahwasannya aku semakin jauh dari masa mudaku, yang aku tau semakin aku tua semakin aku memiliki banyak peran semakin besar tanggung jawab yang akan diminta pertanggung jawabannya. Makasih buat semuanya, lu semua emang keren abis.
Dedicated to : Orang-orang hebat yang selalu menemani gua