Jangan Menyerah

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Reff :
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

Jangan menyerah (6x)

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

Dan tak kenal putus asa (2x)


Adab

adab

Suatu hari aku membaca sebuah artikel. Menurutku isinya sangat menarik dan sebagai pengingat diri sendiri yang terlalu sombong dalam menuntut ilmu dan sering lalai dari akhlak yang tidak beradab. Astaghfirullahal’adzim

 

Menuntut Ilmu, Pelajari Adab dulu

Iman dan adab tidaklah dapat dipisahkan, seorang penuntut ilmu harus beradab ketika menerima ilmu dari gurunya. Beradab terhadap gurunya, beradab dengan teman-temannya, bahkan beradab terhadap buku yang dia pelajari.

 

Saya tidak tertarik lagi pada orang yang berilmu tinggi.

Sebab saya telah berjumpa seorang ustadz, tapi mudah sekali berprasangka buruk.

Sebab saya telah bertemu seorang aktivis dakwah, namun seenaknya menggunakan amanah.

Sebab saya telah berjumpa pengusaha syariah, tapi tak menunaikan haji.

Bukan, mereka bukan orang-orang bodoh.

Bukan rendah pendidikan.

Bukan pula kurang tsaqafah (mahir).

Mereka cuma minus adab.

Sesuatu yang membuat ilmu-ilmu mereka terasa tak ada gunanya. Belaka pemanis dan pelengkap nama besar saja.

Miris…

Mungkin itu sebabnya Ibn al-Mubarak pernah berkata,

Kami lebih baik membutuhkan sedikit adab daripada ilmu yang banyak.

adab menuntut ilmu


Belahan Jiwa

photo1059146945763846109


Forgive

Lord, forgive me.

“أَسْتَغْفِرُ الله الَّذِي لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ” (رواه الترمذي و أبو داود والحاكم.
Astaghfirullahal-ladzi la ilaha illa Huwal-Hayyul-Qayyum, wa atubu ilaih

Aku memohon ampun kepada Allah, Yang tiada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengurus, dan aku bertobat kepada-Nya.


Lelah

Mengapa lelah?

sementara Tuhan selalu menyemangati dengan Hayya  ‘alal Falah, bahwa jarak kemenangan hanya berkisar antara kening dan sajadah.

Shalat.

shalat

Muslim man prays in mosque

Yaallah, maafkan aku saat aku lalai & tidak sempurna melaksanakan shalat.

Enric*

Dia…

Yang hobi tidur 4 jam sehari.
Taat, taat pada agamanya & tidak pernah menyontek.
Cerdas, pintaaaaaar sekali.
Ulet, rajin belajar & suka membaca buku.
Mandiri, tidak suka bergantung pada orang lain.
Ramah, suka tersenyum (senyumnya seperti di foto bawah)
Pemimpi, namun realistis & tegas dengan cita-citanya.
Kuat, tidak suka mengeluh.
Sederhana, santun yang ndak kebanyakan gaya meskipun dari keluarga kaya.
Rendah hati, tidak sombong meskipun punya potensi untuk sombong.
Aku tuh dulu minder dengan semua hal yang kamu miliki. Tetapi kamu selalu rendah hati dan bilang itu punya orang tuamu lah, itu karena Allah lah, dll.
Memang calon abang yang bisa jadi contoh baik bagi adek-adeknya, calon suami yang bertanggung jawab bagi keluargamu nantinya.

.

Aku pernah bertanya padanya. Kenapa namamu modern & gaul sekali?
Namanya memiliki doa, kelak menjadi seorang ilmuwan.
Ya, aku percaya dan dia telah membuktikannya selama ini. Diterima di UI melalui jalur PMDK tanpa test, IPK peringkat ke-2 se-UI, kuliah dengan beasiswa untuk jenjang PhD (S3) tanpa melewati S2 di kampus terbaik Singapore (NUS), magang di Intel – US, presentasi papernya di beberapa negara.
Aku percaya suatu hari nanti dia akan menjadi putera terbaik bangsa yang bermanfaat bagi banyak orang.

.

10 Juni 2016, Allah punya rencana terbaik.
Masya Allah, hari Jum’at dan bulan Ramadhan.
Aku yakin, kamu datang dalam bayang-bayang di depan pintu kosanku menjelang sebelum kepergianmu.
Ya, 2 hari itu, ketika aku shalat pagi. Aku yakin itu kamu.
Kamu mau pamit kan & mau minta maaf kan.
Beberapa minggu sebelum kamu pergi, Allah telah membisikkan hatiku untuk menghubungimu. Aneh sekali tiba-tiba aku kepikiran kamu. Ada apa denganmu?
Ternyata itu terakhir kita berjabat tangan di dunia maya setelah terakhir aku bertemu denganmu saat wisuda September 2011 lalu.
Dan Sabtu pagi itu adalah hari terakhir aku melihatmu. Tetapi aku melihatmu dengan air mata, co.
Aku sedih, kamu kurus banget, co.
Karena takdir, kita belum bicara banyak. Padahal aku ingin sekali datang di hari pernikahanmu nanti.

.

Terima kasih banyak ya, co.
Sosokmu secara tidak langsung telah mengajari aku mencintai Allah, menjadi orang bermanfaat, dan berusaha membahagiakan orang tua.
Aku pakai jilbab, aku punya mentor agama, aku ikut liqo, aku aktif di beberapa kegiatan kampus, aku rajin belajar, dll.
Kamu pernah beberapa kali bantuin aku ngerjain tugas kuliah programming yang aku ndak ngerti. Kamu yang bikin aku tenang ketika aku panik memperjuangkan nilaiku untuk kuliah Matematika Diskrit. Selama kuliah, tidak pernah aku bisa mengalahkan nilamu yang selalu lebih baik dariku. Kita nge-gahul baca buku bareng di gramedia. Kamu yang mnemenin aku di telepon ketika aku sakit bahkan sampai aku dirawat RS. Liburan kita yang jalan-jalan sore di monas. Pulang naik angkot bareng setiap selesai kuliah. Dan semua kenangan kita.
Sudah tertulis di catatan Allah, aku pernah menjadi bagian dari hidupmu di dunia.
Terima kasih ya, co.
Maafin aku ya, co.
Doaku yang terbaik untukmu.
Allah sayang banget sama kamu.

1931313_43796896051_5566_n


Hadiah

hadiah

Memberi Hadiah Itu Perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan cara bagus menjalin hubungan. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تهادوا تحابوا

Salinglah memberi hadiah niscaya kalian saling mencintai.

(HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, hasan. Lihat Shahih Al Adab Al Mufrad, 1/221)

.

Memberi hadiah juga cara bagus menghilangkan permusuhan. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تَهَادَوْا، فَإِنَّ الْهَدِيَّةَ تُذْهِبُ وَغَرَ الصَّدْرِ

Salinglah memberikan hadiah, sesungguhnya hadiah itu bisa menghilangkan amarah dan melapangkan dada.

(HR. Ahmad No. 9250. Syaikh Syuaib Al Arnauth: hasan)

.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun juga menerima hadiah. Sejarah nabi menunjukkan, Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menerima hadiah, baik dari para sahabatnya atau negeri lain. Abu Jahm pernah memberinya hadiah mantel. Dari ‘Aisyah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat memakai pakaian berbulu yang bergambar, lalu dia bersabda: “Gambar-gambar ini mengganggu pikiranku, kembalikan ia ke Abu Jahm, tukar saja dengan pakaian bulu kasar yang tak bergambar.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

.

Memberi hadiah hendaknya dengan sesuatu yang halal bukan haram. Tidak harus mewah, mahal, ekslusif, dan wow. Yang penting halal. Halal di sini, baik secara zat, dan juga cara memperolehnya. Maka, jangan berikan saudara kita khamr, barang curian, dan sebagainya. Menerima hadiah juga jangan asal terima, tolak jika haram. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

…. dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al Maidah: 2)

Hati-Hati Risywah (suap/sogok). Jika ada yang memberi hadiah tapi ada udang dibalik bakwannya tolak aja. Walau diistilahkan dengan hadiah, atau istilah lain yg mengaburkan hakikatnya. Memberikan hadiah, karena tahu anaknya tidak akan naik kelas. Memberikan hadiah, karena NEM anaknya rendah agar masuk SMA unggulan. Memberikan hadiah kepada orang dalem, karena tahu dirinya kalah bersaing masuk PNS/TNI/POLRI. Dan masih banyak cth lainnya. Risywah yang bagaimana sih? Disebutkan dalam Al Mu’jam Al Wasith:

ما يعطى لقضاء مصلحة أو ما يعطى لإحقاق باطل أو إبطال حق

“Sesuatu yang diberikan agar tujuannya terpenuhi, atau sesuatu yang diberikan untuk membenarkan yang batil, atau membatilkan yang haq.” (Al Mu’jam Al Wasith, 1/348. Dar Ad Da’wah)

Jadi, segala macam pemberian dalam rangka menggoyang independensi seseorang dalam bersikap dan mengambil keputusan, itulah risywah. Akhirnya, pemberian itu (uang atau barang) yang menjadi penggerak sikapnya, bukan karena kebenaran itu sendiri. Sehingga yang layak menjadi tersingkir, yang buruk justru terpilih. Haq menjadi batil, batil pun menjadi haq.

.

Tulisan: Farid Nu'man Hasan, semoga bermanfaat! :)
Join Channel Majelis Ilmu Farid Nu'man: bit.ly/1Tu7OaC