PEDULI

Mungkin bisa dibilang basi, gw mau utak-atik curcol tentang masa-masa gw menjadi bagian dari panitai PMB 2009. Begitu banyak ke-setress-an, ke-letih-an, ke-capek-an,ke-pelik-an, dll. Namun, bukan hal itu yang ingin dibahas disini, tetapi semua itu berawal dari :

Akhir bulan Mei, diadakan open tender pemilihan PO PMB 2009. Well, pada awalnya gw diajakin gabung sama ka nunug, tetapi yang masih mengganjal adalah gw belum siap menanggung beban tanggung jawab yang begitu besar apalagi jadi PO, gw takut gak sanggup, apa jadinya diri ini jika tidak bisa menunaikan kewajibannya yang kelak akan diminta pertanggung jawabannya nanti??? OMG!!! Akhirnya seiring waktu berjalan, dan berjalan… gw ikutan gabung sekelompok sama ka nunug, ka ayash, ka bigz, ka ating, dan ka gilang. Yang perlu diketahui, saat itu adalah presentasi depan BO-BSO sekaligus tanya jawab, dalam diri siih belum ada keyakinan bakalan maju, tapi buat gw adalah setidaknya gw pernah merasakan pengalaman bersaing dengan para kaum laki-laki (halah, bukan itu siih.) Gw emang mau jadi panitia, tapi tujuan gw jadi panitia yang terutama adalah bukan jadi PO, gw pengen kenalan keluarga baru Fasilkom, gw pengen punya banyak teman-relasi, dan jujur aja gw emang paling seneng mengerjakan sesuatu yang bersifat interaksi sosial ketimbang mengerjakan utak-atik kompi, hahahahaha…

Satu hal yang sampai hari ini gak pernah gw lupa, di akhir sesi tanya jawab, kita semua ditanyakan 1 buah pertanyaan, klo gak salah pertanyaan dari “Bang Topan Anak Jalanan” (halah, udah kaya judul sinetron aja, sorry bang, peace). Pertanyaannya adalah :

Menurut kalian, satu kata yang paling pas untuk menjadi seorang PO itu apa siih?
Dan
Menurut kalian, apakah kalian sudah siap/pantas menjadi seorang PO?
(kalo gak salah siih tanya-nya begitu)

Diantara semua kandidat, hanya 1 kata yang sampai detik ini gw bernapas, yang paling gw hapal jawabannya untuk pertanyaan pertama, adalah jawabannya alm. Ardit. Ardit said, “PEDULI, menurut gw siih peduli aja sudah mencakup semua hal, peduli sama angkatannya, peduli sama….blablablabla… (gw lupa)” — well, 1 kata ini, akan berhubungan pengalaman gw di pertengahan perjalanan PMB 2009.

Akhirnya, terpilihlan..jeng..jeng… ka nunug sebagai PO utama, dan PO yang lain adalah mas gilang sama mbak ayash. Dan dilanjutkan dengan pemilihan BPH PMB, dimana semua calon PO ditawarkan menjadi BPH. Terus terang aja, awalnya gw pengen jadi BPH Akademis, tetapi setelah gw shalat tahajud, shalat fajar, shalat istiqarah (lebaaaaaaaaay, padahal kagak, hehehe….) Mood gw mengatakan kalau gw pengen jadi mentor, gak jadi BPH ndak apa-apa, yang penting gw jadi mentor. Alasannya :

pertama, seperti yang pernah gw katakan, gw paling senang punya banyak teman.

kedua, kalau ngaca diri sendiri siih, kayanya gak pantes jadi mentor, kayanya masih bisa belum dijadiin contoh, masih berantakan-liar-dll. Nanti, mentee2 gw ngikutin kejelekan gw kan, gw-nya yang dosa. Namun, setelah gw me-riview pengalaman gw jadi maba, gw punya mentor (mungkin sebagian besar taulah siapa mentor gw). Tampak luar memang biasa saja, yaaa bgitulah kelakuannya…..hehehe “sorry bos”. Tapi satu hal, dia bisa bikin mentee2nya tertawa, di saat mentee2nya lagi stress habis di evaluasi-habis enek ngadepin DDP, dia bisa bikin awan yang tadinya mendung jadi halilintar (hahahaha, gak deng, bisa jadi ceraahhh melepas penat), asiiik, seru, gokil, udah berasa adek-kakak, mantaff… Dengan begitu, membuat mentee2nya tidak merasa bosan, dan meskipun klo kumpul cuma begitu-begitu aja, tapi buat gw itu satu hal yang tidak pernah terlupakan.

Ketiga, gw gak mau jadi komdis karena emang gw g bisa jadi komdis, dan tidak berminat dengan bidang2 lainnya.

Keempat, gw membayangkan ibarat “maba yang lagi kesasar di hutan, nah tugasnya sebagai mentor niiih bantuin mereka biar mereka gak kesasar di Fasilkom, ngasih arah kepada maba-maba baik dari sisi akademis-nonakademis-moral-ruhiyah-dll”

Kelima, gw gak bisa terus-terus mikirin diri sendiri, udah saatnya gw meluangkan 1 semester gw buat mikirin orang lain (cielaaah), dan pada akhirnya kualat juga siih, otak gw juga “overloaded” mikirn PMB-dll yang harus sejalan sama kuliah, ujung-ujungnya IP turun, alhamdulillah turunnya gak turun drastis, meski sempet ditegor juga siih sama ibu-bapak, hiks2 .

Dan pada akhirnya, gw ditunjuk untuk diberi amanah menjadi BPH mentor. Terus terang, awalnya gw agak pesimis, apakah gw bisa memimpin 29 mentor dengan keadaan gw yang bisa dibilang gak pantes jadi PJ mentor, karna ngerasa kayanya ada yang lebih pantes, masih ugal-ugalan gini. Melihat situasi mentor PMB 2008 yang harus dibenahi sistematisnya, gw harus banyak belajar dari ka dephira-ka merry dan akhirnya gw langsung ngajak ktemuan sama mereka dan meminta nasihat-nasihat terbaiknya. Apakah gw bisa memperbaiki di tahun 2009??? Syoookkkk.

Gw mencari keyakinan dan rasa optimis itu, dengan cara muncullah sebuah ilham : seharusnya gw sadar, gw ditemani oleh 29 mentor yang sangat berkualitas dan benar-benar terpilih melalui jejaring sosial facebook, eeee…maksudnya melalui jejaring 3 level wawancara dan CV buat jadi mentor. Gw harus yakin sama kemampuan mentor yang lain, gw harus bisa berdayakan sumber daya mereka, karena gw sadar, gw g bisa kerja sendirian. Akhirnya, gw bentuklah beberapa divisi dengan job desc masing-masing, alhamdulillah itu sangat membantu gw selama gw bekerja. Makasih yaaa teman-teman semuanyaaaa

Gw inget banget, pertama kalinya liat muka maba pas “Welcome Maba” tanggal 1 Juni dan 4 Agutus 2009. Pertama kali yang terlintas dalam pikiran gw ketemu mereka, “waaaaaaawww…inilah warga baru Fasilkom, warga baru yang masih bisa dibilang kesasar di UI, kesasar gak ngerti apa-apa, belum ngerasain spot jantung DDP-MD-MPKT-dll…. Udah gak sabar pengen bersosialisasi sama mereka. Senangnyaaa….kenalan sama teman-teman baru.

Dimulai dari pembagian kelompok besar, diikuti oleh masing-masing mentor yang setia meluangkan waktunya untuk memantau perkembangan masing-masing kelompok besar. Satu hal yang bisa dipelajari saat itu, gw bangga sama temen-temen mentor yang bisa gw liat dengan secara langsung, mereka mau beraksi, mereka mau bekerja rela-rela luangin waktu untuk berdekatan dengan para mentee-menteenya, meskipun ada berbagai serangan komentar-kritik-saran yang tidak enak atau enak dari segelintir maba. Gw melihat mereka mencintai perkerjaan ini, ituah yang gw harapkan…Yaa meskipun, tidak selalu datang setiap hari, tapi gw udah merasa bangga sama rekan-rekan mentor yang bisa gw andalkan dan gw percaya. Milis mentor penuh dengan suka cita curcol para mentor yang bertemu dengan masing-masing kelompok besar, mantaafff. Namun, well… pada akhirnya kalau sudah menyentuh akademis kampus, sudah masuk kuliah, aku yakin…semuanya akan agak sedikit berubah, tau sendiri Fasilkom itu bagaimana -_-

Waktu semakin berlalu, mulai dari pra-psaf (briefing), lalu psaf KI-psaf reguler hari pertama dan kedua. Hal yang menarik dari psaf adalah, itu pertama kalinya gw berkenalan dengan masing-masing mentee kelompok kecil. Baru pertama ali saja, sudah saling mengejek, aku suka kelompok ini. Tidak diduga memiliki mentee yang asiik-seru, karena memang pada awalnya yang baru aku kenal cuma kang dadan sama dika, ehhh ternyata yang lainnya juga tak kalah menariknya. Ada yang suka : diem perlu dipancing biar mau ngomong, moody, ceng2an/ejek2an, jaim, narsis, kaya bocaaaah, tenang-tenang menghanyutkan, tampang serius (itu kadang2), imut2, ramah, penurut, menghormati, baik, dll….. Mereka juga ternyata bisa membuat tersenyum, meskipun kakak mentornya sedang menagalami stress.

Waktu berjalan, ditemukan berbagai kemelut, mulai dari hampir setiap minggu rapat BPH di MIC, mentoring mingguan, pertanyaan dari beberapa mentee yang kadang kala gw harus berfikir keras menjawab pertanyaan mereka agar tidak menyesatkan, menghadapi situasi maba-maba yang menurun motivasi PMB-nya, belum harus memikirkan 29 mentor, tanggung jawab gw di BEM-FUKI juga, memikirkan perkembangan mentee gw juga udah kaya berasa ibunya-anak tp gak juga siih kadang mentee2 gw pemikirannya lebih dewsa dari pada gw, trus….kejadian konflik sapel 1 antar panitia-dosen dan efeknya ke maba juga, sapel 2, dan finally MK. Itu semua bener-bener GOKIL, mangstab ada adrenalin rush-nya gitu. Yang paling gw syukuri, perlu dketahui saja,…bahwa semster 5 itu banyak tugas kelompok, di sisi lain gw harus bisa menajemen waktu…..alhamdulillah….temen-temen sekelompok baik-baik bener sama gw, dan mereka cukup mengerti dengan kondisi gw, bahkan gw pernah sakit dan kemudian gak masuk, di sisi lain hari itu ada deadline tugas kelompok……dan mereka sangat menghormati gw, makasih yaaa semuanyaaa…Tanpa lu semua, nilai gw bener-bener tertolong.

Lantas, apa hubungannya sama peduli?
Suatu keadaan gw sering banget dihadapkan pada pilihan. Contohnya :
1. Manusia yang tak luput dari rasa bosan, sekalipun gw menyukai suatu pekerjaan, tetap saja gw pernah merasakan kejenuhan ditambah lagi dengan berbagai tugas kuliah yang “amit2”
2. Seperti yang gw katakan, yang namanya di Fasilkom memang selalu saja ada badai, yup…”Badai tugas” yang bisa membuat mahasiswa/i kecekek leher, baru napas sebentar sudah disuruh lari-alri lagi, setiap hari adaaaaaaaaaaaaaaaa aja… hal kuliah yang harus dilakukan. Di lain sisi, panitia harus tetap berkomitmen sebagai panitia PMB, di sisi lain maba-pun harus bisa memanajemen waktunya antara mengerjakan tugas-evaluasi-dll PMB dengan kuliahnya. Ada yang motivasinya semakin menurun atau tereliminais karena “seleksi alam” Fasilkom dan semakin sedikit saja yang bertahan. Di sisi lain, gw pun harus bertahan, bertahan mengingatkan para mentor dan maba-maba. Melalui para mentorlah, perkembangan maba bisa kita lihat. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….ibuuuu!!!
3. Suatu ketika, aku ingat betul aku belum belajar buat quis besok. Bahkan untuk UTS saja aku belajar di hari yang sama, hanya selisih tidak lebih dari 5 jam, ujian E-Commerce kalau gak salah.
4. Jadwal maupun menejemen stress gw berantakan. Agak malu juga, nyuruh mentee2 manajemen waktu dan manajemen stress tapi ternyata mentornya sendiri juga lagi stresss……jujur saja aku butuh support saat itu, aku butuh dukungan berbagai pihak, aku butuh semuanyaaaa…… Namun, yaaa inilah gw, merasa tidak enak, dipendem sendiri, dll..yang pada akhirnya emosi gw memuncak pada setelah UTS, arrrrrrrrrrrrrrrrghhhhh….

Jawab : benar saja, aku seperti memiliki 2 sisi yang berbeda. Satu sisi aku bisa saja gak peduli, satu sisi peduli. Gw bingung, hidup itu memang suatu pilihan. Jujur saja, aku ini bukan tipikal multitasking dalam bekerja, aku harus fokus mengerjakan satu per satu baru bisa mengerjakan yang lainnya. Di saat kejenuhan sudah mencapai titik puncaknya, terutama menjelang UTS. Aku teringat perkataan alm.Ardit….sejak meninggalnya ardit, gw gak berani buka facebooknya ardit, beberapa hari setelah alm. Ardit meninggal, aku pernah sempatkan diri membuka facebook, dan pada akhirnya air mata ini bercucuran di depan monitor… Bagaimana tidak, teman yang menjelang kematiannya beberapa jam sebelumnya selalu berada disekitarku dan disekitar teman-teman yang habis nonton AbNon. Gw g bisa tidur kurang lebih hampir seminggu setelah wafatnya. Gw ingat betul, 1 kata yang pesan dari Ardit “PEDULI”….yaaaa itu dia, satu kata yang harus gw perjuangkan, mungkin ini memang sudah saatnya emosi gw meledak, gw bertindak dan tanpa mengeluh (meski pada akhirnya mengeluh juga, hehe).

Lu emang bener dit, gw harus PEDULI. Gw g bisa hidup sendiri (meski sampai hari ini masih ngerasa sendiri, hehe curcol). Gw harus menemukan solusinya, yaaa pada akhirnya gw harus mencintai pekerjaan ini, sehingga apapun yang terasa berat jika dilaksanakan dengan penuh rasa cinta akan terasa lebih ikhlas menjalaninya.
Gw menyempatkan diri curhat di wall-nya ardit, menjelang akhir-kahir uTS… gw bilang :

ardit…akhirnya gw baru berani isi sekarang.
Tau gak sih dit, satu kata yg akhir-akhir ini gw inget dari lu, kriteria untuk jadi PO_PMB pas open tender presentasi depan BO-BSO adalah “peduli”

Akhirnya, gw merasa, kayanya gak hanya harus PO, tetapi juga semua panitia dan berharap maba2nya juga harus jadi mahasiswa/i pedli, gak hanya sama angkatannya aja tp juga semuanya.
Peduli dimana kadang-kadang merasa harus mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi bahkan kuliah aja rada kacau akhir-akahir ini.
Kepedulian yg sering banget dialami oleh sebagian besar panitia trmasuk maba untuk PMB 2009 yg lebih baik.

smangaat🙂

Jadi kesimpulannya :
Sudahkan anda peduli dengan orang-orang sekitar hari ini? Tanyakan pada diri anda masing-masing. *dedicated to alm.ardit, yg telah menginspirasi dan mengingatkan gw*

Apapun yang gw tulis di atas masih kurang dari kesempurnaan, begitu juga gw sebagai mentor dan sebagai mahasiswa. Dan sesungguhnya yang menambha ilmu-menginspirasi hidup gw di semster 5 bukan hanya dari ardit, tetapi banyaaaaaaaaaaaaaak banget. Mulai dari karakteristik beberapa mentor, mentee, BPH, PO, senior, dll. Makasih buat semuanya yang sudah membantu, kita semua emang punya banyak kekurangan, namun kita sangat merasa bangga, dimana kekurangan itu akan tertutupi di saat kita bisa saling melengkapi dan bersama-sama berjuang menjadi manusia yang lebih baik, untuk Fasilkom yang lebih baik, untuk PMB 2009 yang labih baik… Untuk saling mengingatkan bahwa kita butuh satu hal, yaitu : PEDULI.

#maaf kepanjangan, tepi memang disitu klimaks-nya ^_^


2 responses to “PEDULI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: