Niat

Aku bukan bermaksud menggurui dengan modal otak pas-pasan yang mentranslasikan hasil pengamatan melalui mata penglihatanku dan hasil pendengaran yang berasal dari kata hati. Jadi seakan-akan aku memang sok tau padahal gak setiap hari makan tahu tapi makannya tempe, ahahahah. Tulisan ini disampaikan dengan maksud ada hikmah dan ilmu manfaat yang diperoleh, insyallah…amiiin.

Aku pikir beberapa dari kita ada yang sedang mencari pekerjaan, bahkan sudah bekerja, menganggur untuk sementara, masih menyelesaikan kuliahnya, melanjutkan S2, dll. Tulisan ini bisa dijadikan refleksi pribadi, sudah sampai sejauh mana kita menjadi insan yang pantas dicintai dan mencintai Allah maupun orang lain. Sebut saja suatu ketika aku sedang naik metromini sepulang dari melakukan tes pekerjaan. Muncul pertanyaan :

Apa sih tujuan aku bekerja? (tujuan=niat). Jawab :

  • Kalau sudah lulus yaa bekerja, kebetulan memang rencanaku setelah lulus yaa ingin bekerja. Teringat ketemu nenek-nenek duduk bersebelahan di metro mini (berasa ketemu malaikat) nyuruh kerja dulu baru nikah. Agak kaget juga sih, padahal jodoh mah belum ada nek, meskipun diri ini juga sedang mempersiapkan ke arah sana. Entahlah, aku pikir setiap bertemu orang di tengah jalan yang tiba-tiba curhat dan menasehati aku, aku merasa mereka itu adalah malaikat. Kenapa? Ko bisa pas banget sama yang aku pikirkan atau memberikan solusi atas masalah yang aku hadapin. Dan yang aku bingung, kenapa mereka begitu mudahnya percaya sama anak ingusan semacam aku ini. Percaya gak percaya, tapi ini kenyataan loooh, udah kejadian 2x ^^
  • Mencari pekerjaan yang mendukung jurusan jika ingin kuliah lagi , diharapkan dapat belajar & memperoleh banyak pengalaman.
  • Mencari uang? tentu saja. Tidak selamanya kan kita akan terus bergantung dengan orang tua & beasiswa, meskipun HP yg dipake pinjeman abang udah agak rusak begitu, ahahaha. Uang? Biar bisa berbagi sama orang-orang susah, bisa traktir orang tua makan makanan enak, ditabung kalo-kalo suatu hari memutuskan untuk berkeluarga dan bisa nambah-nambah uang saku kalau mau S2 nanti, dll.
  • Memperluas pertemanan & relasi.

Dari beberapa tujuan di atas, ternyata tidak semudah itu saja mencari pekerjaan  yang cocok.  Lirik IPK, lirik skills, lirik minat, lirik pengalaman KP dan organisasi, lirik-lirikan deh, halah. Muncul anak-anak pertanyaan yang cukup membuat resah, diantaranya :

  • apa saja yang saya peroleh jika bekerja disini?
  • mau kerja di perusahaan apa?
  • mau kerja apa? Intinya gak mau jadi programmer, hehe
  • mau jadi apa?
  • berapa gajinya?
  • bagaimana lingkungan kerjanya & orang-orangnya? Tentu saja lingkungan sangat berpengaruh, dunia kerja sangat berbeda dengan lingkungan kampus apalagi lingkungan Fasilkom yang anak-anaknya bisa dikatakan baik. Aku akui lingkungan kerja sangat melekat dengan gaya hidup hedonisme dan banyak godaan, bagaimana jika diri ini berada pada titik “lupa diri”…nauzubillah min zalik, konsistensi benar-benar diuji.
  • bagaimana jarak tempuh dari rumah? Jarak tempuh mempengaruhi tingkat keletihan fisik. Bahkan aku pernah bolak balik interview, yang pada akhirnya baru shalat ashar jam 17.30. Pernah juga punya pengalaman malu pas naek bus transjakarta, ingin meminta space untuk berdiri dan di depanku adalah seorang ibu-ibu. Ibu-ibu itu aku senyumin tapi dia tetap membalas dengan muka datar dan cuek. Dalam hati : Hadeuuuh bu, coba ibu senyum dikit pasti keliatan lebih cantik & adem ngeliatnya, yaaah anggap saja dia sedang ada masalah.
  • bagaimana kalau saya sudah berkeluarga lalu pulang larut malam? Kasian anak-anakku nanti, percuma punya gaji gede tetapi keluarga luntang-lantung.
  • apakah sesuai dengan rencana hidup dan cita-cita saya jika bekerja disini?
  • bagaimana kalau pekerjaan ini tidak cocok? Jawab : keluar, tetapi tidak semudah itu saja kan keluar.
  • bagaimana…bagaimana…apa…apa….dll?

Itulah beberapa pemikiran yang mungkin muncul bagi para teman-teman yang sedang mencari pekerjaan atau bagi senior-senior yang sudah bekerja. Teringat suatu ayat yang berisi :

 
Katakanlah (Muhammad) : Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS An’aam : 162)

Pesan tersirat dari ayat di atas adalah menjelaskan tentang posisi manusia di dunia yang pada intinya untuk mengabdi kepada Allah SWT. Lalu apa hubungannya dengan pekerjaan? Aku pikir tidak salah jika seseorang bekerja di perusahaan ternama dengan gaji besar, atau bekerja di luar negri, atau bekerja sebagai programmer, dll yang terpenting kalian enjoy & bertanggung jawab disitu. Asalkan yang perlu diingat, cobalah untuk keep istiqomah atau pekerjaan sejalan dengan ibadah. Ibadah tidak hanya sekedar shalat, berdoa, dan berpuasa karena itu hanya tersirat untuk hubungan secara hablumminallah. Beribadah secara hablumminannas juga tetap penting. Ibadah di dunia ini sangat banyak bentuknya dan macamnya.

Rasulullah SAW pernah bersabda, semua amal perbuatan tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa berhijrah karena dunia yang ia cari maka hijrahnya untuk apa yang dituju.

Niat yang salah akan mendatangkan hasil yang salah pula. Sebagaimana kita semua pernah kuliah di Fasilkom mengenal istilah input/output dalam programming. Ketika kita menggunakan komputer, jika input berupa hal yang salah maka akan menghasilkan keluaran yang sudah pasti salah/erorr. Karena itu mari luruskan niat dalam beraktifitas. Kalau begitu, niat bekerja bukan untuk sekedar kaya, niat belajar bukan untuk sekedar pintar. Aktifitas belajar, bekerja, atau hal-hal lainnya harus diniatkan karena Allah semata.

Amal yang kecil menjadi besar karena baik niatnya, dan amal yang besar bisa menjadi kecil karena salah niatnya. Sayangnya banyak di antara kita yang malahan melupakan masalah niat ini. Mungkin karena bukan sesuatu yang nampak, niat sering kali kita pandang sebagai perkara yang tak penting. Kita lupa bahwa niat merupakan syarat pertama akan diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah SWT. Niat karena Allah Ta’ala sungguh merupakan pembeda nyata antara seorang mukmin dengan lainnya.


4 responses to “Niat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: