MERDEKA

Usia kemerdekaan Indonesia dengan 66 tahun masih dikatakan relatif sangat muda. Namun apabila disesuaikan dengan usia hidup seorang manusia bisa dikatakan siap-siap menjemput ajalnya, sereeeem >.< Yang perlu digaris bawahi adalah sudah seberapa merdeka Indonesia dalam usia 66thn? Lalu, sudah seberapa besar usaha kita dalam mengisi kemerdekaan? Aku berbicara seperti ini bukan berarti yang paling benar karena aku juga punya banyak kekurangan yang pastinya juga kalian tidak tau kan, hehe.

Contoh kecil mengisi kemerdekaan dan memperoleh hak kemerdekaan dalam tri dharma perguruan tinggi, yaitu : pendidikan & pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Jika kita nge-flash back masa lalu setelah kuliah 4 tahun, apa yang sudah saya lakukan sebagai seorang mahasiswa. Pendidikan dan pengajaran? Tentunya sudah saya peroleh penuh selama menuntut ilmu di kampus, meskipun masih membayar, hehe. Penelitian? Bisa dikatakan sudah melakukannya selama menyelesaikan tugas akhir dengan memberikan suatu solusi penelitian. Pengabdian? Sangat disayangkan, program KKN di kampus bukan menjadi program kuliah wajib bagi mahasiswa. Aku pikir program KKN ini sangat konkrit sekali untuk menjamah daerah-daerah terpencil.

MERDEKA!!! MERDEKA!!! (teringat ekpresi ibu mega dengan mengepalkan jarinya ke angkasa seraya membebaskan diri dari belenggu kemunafikan akan kemerdekaan, hahaha) Suka nyengir sendiri liat tingkah lakunya, tapi setelah diperhatikan memang benar adanya. (bukan berarti saya ini antek-anteknya bu mega lohh)

Kemunafikan akan kemerdekaan? Sebenarnya tidak muluk-muluk munafik juga sih. Tingkat melek huruf di Indonesia sudah meningkat hampir 95%, sedangkan pada waktu masa kemerdekaan hanya 5%. Tetapi masalah yang dialami bagi bangsa ini bukanlah lagi masalah melek huruf yang berkaitan dengan kemampuan menulis dan membaca. Teringat janji-janji kemerdekaan yang tertuang pada isi Pembukaan UUD 1945, diantaranya secara garis besar adalah :

  • Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
  • Memajukan kesejahteraan umum
  • Mencerdaskan kehidupan bangsa
  • Melaksanakan ketertiban dunia….bla..bla…bla…

Dengan memenuhi janji-janji kemerdekaan tersebut dan kemudian melihat realitasnya, maka dapat disimpulkan masih banyak sekali PR (pekerjaan rumah) bagi bangsa Indonesia. Contohnya diantaranya adalah :

  1. Masih banyak TKI kita di luar sana yang mungkin saja sedang terancam nyawanya atau bahkan sering kita lihat hanya tinggal meninggalkan nama saat sepulang ke Indonesia.
  2. Belum lagi sehari yang lalu aku sempat membaca koran KOMPAS yang judulnya “APBN Terus Naik, Kesejahteraan Turun”. APBN sekitar 190-an triliun jumlahnya meningkat dibandingkan pada tahun 2010. Di lain sisi, total angka kemiskinan meningkat dari 64 juta-an jiwa menjadi 67 juta-an jiwa di tahun 2011. Dikatakan dalam APBN 2011, belanja kesejahteraan sebesar 66 triliun untuk 31 juta penduduk miskin, belanja infrastruktur 122 triliun, belanja pegawai 182 triliun untuk 4,2 juta jiwa, subsidi 230 triliun, utang 150 triliun. Artinya selama ini anggaran 182 triliun hanya untuk 4,2 jt pegawai sedangkan 66 triliun untuk 31 juta penduduk miskin, belum lagi ditambah 20% penduduk hampir miskin. Yaaak, yg jadi pegawai apakah sudah pantas dibayar semahal itu kalau kerjanya masih suka kongko-kongko. Yang kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin. Bayangkan! Aku yang sehari kuliah bisa menghabiskan 20rb untuk makan dan ongkos. Di lain sisi, petugas pengangkut sampah yang 2 hari sekali datang ke rumah hanya dibayar 15rb/bulannya. Oooh, mameeen…come on guys? Life isn’t fair…
  3. Carut marut politik yang telah menguasai konsistensi dan peranan penegak hukum telah muncul berbagi korupsi. Krisi kepercayaan dimana-mana, karena semakin sulit menemukan orang jujur. Yang jujur malah ditindas, yang gak jujur malah berkuasa karena lebih tajir. Korupsi sudah meluas sampai jaringan level bawah, di tingkat sekolah dasar saja sudah ada lingkaran hitam. Ini fakta, bukan guyonan karena kebetulan si Ibu yang paling cantik dan banyak dicintai oleh murid-muridnya  (cielaaah…) adalah seorang guru matematika SD dan pernah mundur jabatan dari bendahara sekolah yang sudah beliau tekuni selama lebih dari 15thn dengan beberapa alasan yang tidak cocok. Bayangkan, sosok teladan di sekolah saja sudah sedikit sekali yang bekerja karena panggilan hati, malah panggilan uang. Najis!
  4. Denger gosip punya gosip kalau di gosok makin sip (halah). Tahun 2012, BBM dan listrik akan meningkat 10%. Innalillahi….
  5. dll. Banyaaaak!

 

Satu dari beberapa solusi yang mungkin bisa ditawarkan untuk menyelesaikan masalah ini adalah serangkain proses yang bertahap dan jangka panjang. Contoh saja, kita yang sudah menuntut ilmu dari SD sampai lulus kuliah yang pada akhirnya kita bisa mencari penghasilan sendiri. Aku pikir pada tahap ini, kita sudah dianggap bukan golongan orang miskin lagi, apalagi kalau uangnya bisa sampai ditabung. Jadi yang perlu ditekankan adalah meningkatkan pendidikan secara merata. Angka kecerdasan di kota-kota besar bisa dianggap sudah sangat modern, bagaimana dengan yang di pelosok-pelosok? Dengan pemerataan pendidikan, maka suatu saat tingkat kesejahteraan juga akan meningkat dengan sendirinya. Namun, kecerdasan saja tidak cukup, hal lain yang perlu diperhatikan adalah akhlakul karimah (moral bangsa). Banyak kasus disekililing kita bisa dikatakan pintar, tetapi akhlaknya tidak mencerminkan intelektualitasnya. Banyak para pemuka agama yang sudah haji tetapi nilep uang anak yatim. Banyak yang tampak luar rajin beribadah, tetapi mereka hanya melakukannya tanpa mengerti intisari dari melakukan ibadah tersebut. Kecerdasan jasmani dan rohani itu tidak sendirinya langsung diperoleh, tetapi adalah pembentukan yang dilalui melalui proses penghidupan sejak kecil.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang mampu belajar dari pengalamannya, dan juga mampu belajar dari pengalaman orang lain.
Jadi mikir, langkah konkrit apa yang bisa aku lakukan sebagai rakyat Indonesia sehingga kelak suatu hari nanti aku merasa bangga?
Tulisan ini sekedar berbagi dan yang membaca semoga dapat mengevaluasi masing-masing pribadi termasuk saya. Jika ada yang tidak berkenan, mohon dimaafkan. Salam.

One response to “MERDEKA

  • akakage89

    Salah satu solusi jangka pendek: Jangan lupa bayar Zakat untuk berantas kemiskinan!

    Salah satu solusi jangka panjang: Luruskan niat menuntut ilmu jangan untuk diri sendiri tetapi untuk kemakmuran dunia karena Allah semata.

    Masih banyak solusi lainnya. Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: