Kesempatan

Ani berasal dari keluarga yang serba miskin. Ani anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang pemungut sampah dari rumah ke rumah. Ibunya adalah seorang tukang sayur keliling. Meskipun Ani berasal dari keluarga yang sangat sederhana, tetapi Ani adalah seorang wanita yang sangat cerdas dan ramah. Ani adalah seorang mahasiswa semester tiga fakultas kedokteran dengan mendapatkan beasiswa penuh. Ani aktif dalam kegiatan akademis dan nonakademis. Ani juga menjadi pengajar private yang dilakukan seminggu dua kali. Hal ini dilakukannya untuk membantu biaya sekolah adik-adiknya yang masih kecil.

Pengalaman hidup Ani telah mengajarkan tentang kesederhanaan membuatnya menjadi orang yang ekonomis (bukan pelit). Bagi Ani, sebuah handphone adalah barang mewah. Handphone-nya yang menjadi tumpuan hidupnya kerena sebagai media komunikasi jika ada tawaran mengajar di beberapa tempat.

Suatu hari, handphone Ani rusak. Ani ingin secepatnya memperbaiki handphonenya. Ani menyempatkan waktunya untuk ke tukang service handphone sebelum kuliah jam tiga sore. Ani sudah memiliki langganan toko service handphone karena toko tersebut memberikan harga yang lebih murah dibandingkan dengan toko-toko lainnya. Toko itu berada di mall ambassador, Kuningan.

Untungnya rumah Ani yang dari Tebet tidak terlalu jauh. Ani pergi dengan naik angkutan umum. Saat itu tepat pukul 12.00 atau jam makan siang. Sehingga banyak sekali orang yang lalu lalang. Berjejer para profesional muda yang asik mengobrol dengan teman-temannya. Mereka terlihat sangat modern dengan gaya hidup yang hedonis.

Satu dari beberapa hal yang sangat menarik perhatian Ani ketika menyebrang jalan adalah melihat seorang pedagang yang sedang menjual opak mentah. Bapak itu sudah tua, kulitnya hitam karena luntur dimakan matahari. Bapak itu berkipas-kipas dengan topinya karena cuaca saat itu sangat terik. Intuisi Ani sangat tajam. Terlintas muncul pemikiran, mana mungkin opak akan laku jika dijual di sini?

Setelah selesai berkonsultasi selama kurang lebih 30 menit dengan tukang service handphone, Ani bergegas pulang. Ani bertemu kembali dengan bapak penjual opak. Intuisi Ani benar! Belum ada opak yang terjual dan sang bapak penjual masih dengan giatnya menawarkan barang dagangannya dengan orang yang lalu lalang. Hasilnya nihil dan hanya keringat saja yang bercucuran.

Ani akhirnya membeli opak tersebut ketika sang bapak menawari dagangannya. Harga opaknya adalah Rp.5000/3 ikat, dimana satu ikatnya berisi 10 opak. Akhirnya Ani membeli 3 ikat opak dan tanpa tawar-menawar dibayarnya dengan Rp.10.000. Sang bapak mengucapkan terima kasih dan sambil mengangkat tangannya seraya mengatakan Alhamdulillah dengan mimik muka bahagia. Ani sadar betul, uang merupakan barang yang sangat berharga baginya. Tetapi ani memiliki alasan lain mengapa Ani melakukan hal tersebut.

Ani berpikir, bagaimana jika hari ini bapak tersebut pulang ke rumah dengan tangan kosong. Bagaimana jika penghasilnnya hari ini merupakan sumber makan keluarganya di hari esok? Bagaimana jika uang yang dia peroleh akan digunakan untuk biaya sekolah anaknya? Ani memutar kembali masa lalunya ketika kedua orangtuanya bersusah payah mencari uang agar Ani bisa sekolah dan memiliki nasib yang lebih baik dibandingkan orang tuanya.  Bagi Ani, opak itu mungkin tidak terlalu berharga, apalagi memikirkan rasanya itu enak atau tidak. Namun, Ani yakin bahwa dirinya sudah melakukan hal yang tepat dan semata-mata hanya untuk beribadah. Batin Ani sangat senang bukan kepayang, meskipun hanya dibalas senyuman, ucapak terimakasih, dan ucapan alhamdulillah oleh bapak penjual opak. Ani lebih menghargai orang-orang yang mau berusaha daripada para pengemis yang uangnya digunakan untuk merokok.

Dari yang kita peroleh, kita dapat menghidupi diri kita. Namun yang kita berikan dapat menciptakan kehidupan orang lain. Kesempatan besar untuk menolong sesama jarang muncul, tapi ada banyak kesempatan kecil di sekitar kita setiap hari. 


One response to “Kesempatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: