Terima kasih

terima kasih

Well, aku jadi lebih sering menulis sejak ada tugas kuliah (Managing People in Organization), yaitu menulis weekly diary/journal essay sampai dengan UTS. Tugasnya apa? Membuat essay diary harian tentang evaluasi diri. Isi tulisannya adalah tentang pelajaran hidup dikaitkan dengan masa lalu bahkan masa kecil ketika berhubungan dengan orang lain kemudian apa yang bisa aku perbaiki sekarang. Hampir setiap minggu aku telah menulis rata-rata >10 halaman. Lama-lama bisa jadi buku chicken soup juga deh ini? Wkwkwkwk…

.

Oke, i want to share my old story. Starting from my mother & when i was a child. Ibu adalah orang yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter aku dan kakaku. Sebagai contoh, Ibuku sering memberikan hadiah jika anak-anaknya berhasil mendapatkan ranking yang bagus seusai pembagian rapor. Ibuku selalu mendidik anak-anaknya memberikan hadiah/reward daripada hukuman/punishnment selama mendidik anak. Hadiah yang diberikan tidak harus mahal, hadiah yang jarang atau belum pernah aku miliki atau nikmati. Contoh beberapa hadiah yang pernah dia berikan diantaranya, burger abang-abang gerobak keliling, makan KFC, makan pizza hut, buku, boneka barbie, tempat makan tupperware, baju baru, ice cream, sepeda, dll.

.

Pada suatu hari yang sangat penting, kami dalam perjalanan pulang dari sekolah. Waktu itu usiaku 9 tahun (kelas 3 SD). Aku berharap dan berdoa agar hari ini Ibu memenuhi janjinya untuk membelikanku burger abang-abang gerobak keliling di depan sekolah karena aku mendapat ranking dua di kelas. Tawarannya pun tiba. “Renny mau burger kan hari ini?”. Kemudian aku mengiyakan dari pertanyaan tersebut. Tetapi kemudian Ibuku berkata, “Ibu juga mau. Bagaimana kalau Renny yang mentraktir Ibu hari ini?”

.

“Sepuluh ribu yah harganya”, aku diam termenung. Aku bisa ko mentraktirnya. Uang jajanku sepuluh ribu seminggu, biasanya aku selalu sisihkan empat ribu (Rp4.000) seminggu untuk ditabung karena aku sekolah dalam seminggu itu 6 hari (Rp6.000). Aku jajan setiap hari menghabiskan Rp.1.000,-. Tetapi menabung itu penting, Ibu sendiri yang bilang bahkan membelikanku celengan untuk senantiasa diisi dan ketika sudah penuh akan dibuka bersama dengan rasa penuh kebahagiaan dan rasa penasaran untuk menghitung berapa jumlahnya. Dan kalau yang dipakai uangku untuk memenuhi permintaanya, burger itu hanya menghambur-hamburkan uang saja.

.

Mengapa waktu itu tak terpikirkan olehku bahwa ini adalah kesempatan emas untuk membalas kemurahan hatinya? Mengapa tak terpikirkan olehku bahwa ia sudah membelikanku segala macam sampai pada waktu itu. Dan aku tidak pernah membelikannya satupun? Tetapi yang terpikir olehku hanyalah “Rp.10.000!”

.

Dengan memendam perasaan egois, pelit, dan tak tahu terima kasih, aku mengucapkan kata buruk yang terus terngiang di telingaku sampai hari ini, “Tetapi Renny ndak bawa uang Rp.10.000, bu. Makan burgernya lain kali saja ya, bu.” Ibuku berkata, “Oke”. Namun karena Ibu sudah berjanji, akhirnya Ibu yang membelikanku burger saat itu juga. Aku merasa tidak enak karena sikap egoisku dan tak tahu terima kasih. Tetapi selama di perjalanan pulang, aku menyadari betapa salahnya aku dan ingin memohon kembali, “Renny yang bayar yah, bu”. Ia tidak menyebut hal itu lagi, dan juga tak terlihat kecewa. Tapi justri sikap diamnya itulah yang meninggalkan kesan begitu dalam bagiku.

.

Aku belajar bahwa kemurahan hati itu adalah jalan dua arah, dan rasa terima kasih kadang-kadang harganya lebih dari “terima kasih”. Pada hari itu, rasa terima kasih mungkin harganya Rp10.000 dan burger yang aku makan itu pastinya burger yang paling enak sedunia. Mengucapkan terima kasih, hal yang sepele tetapi merupakan suatu tindakan penghormatan atau penghargaan terhadap seseorang yang telah berperilaku baik terhadap kita. Sejak kejadian tersebut, aku senantiasa berusaha mengucapkan terima kasih ketika memperoleh hal yang baik dari orang lain. Sesuatu kegiatan yang biasa jika terus-menerus dilakukan pasti tanpa sadar akan menjadi kebiasaan, apalagi ini kebiasaan yang baik.

.

Ada satu hal kejadian beberapa bulan kemudian di hari ulang tahunnya pada bulan Juli, aku memberikannya dia hadiah. Hadiah itu berupa amplop berisi uang Rp 10.000,- Hahaha.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: