Dunia

Well, aku punya kebiasaan sesekali menafsirkan ayat Al Qur’an, entah deh benar atau enggak hasil tafsirannya, haha. Sebenarnya hal ini seringkali aku lakukan karena aku memiliki hobi berpikir/menganalisa. Selain itu, aku belajar dari mentorku yang menerangkan dan menafsirakan ayat-ayat tertentu sewaktu liqo dulu. Jadi sekitar beberapa hari yang lalu, aku membaca sebuah ayat yang menarik untuk di bahas. Disitu diterangkan :

.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (Al Imran: 14).

.

Ya, dapat disimpulkan bahagia dunia ini sementara, akhirat lah yang kekal. Dunia? Sebenarnya telah disebutkan oleh hal-hal yang telah disebutkan pada ayat di atas. Pertama, keluarga yang mencakup anak dan istri (makna istri tentunya bisa diganti dengan suami bagi kaum perempuan). Kedua, harta kekayaan dalam wujud: emas, perak (perhiasan), kuda (mungkin itu maksudnya kendaraan kali yah), binatang ternak dan sawah ladang (mungkin itu maksudnya agrobisnis atau bisnis usaha kali yah). Tak bisa dipungkiri ketika aku melakukan refleksi diri. Maka, ayat tersebut ya memang benar jika kita melihat realitas di dalam kehidupan sehari-hari, baik membayangkan ke diri sendiri atau mengamati orang lain *meskipun aku belum menikah, ndak punya perhiasan, ndak punya kendaraan, ndak punya bisnis usaha, tapi punya banyak dosa & banyak salah dengan orang lain :p. Jadi keluarga dan harta kekayaan memang akan selalu menjadi dambaan manusia hingga kapanpun selama masih hidup.

.

Islam sering kali membahas baik dan buruknya dengan membandingkan sisi positif (azas manfaat) dan sisi negatif (azas mudharat). Sama halnya dalam dunia ekonomi bisnis lalalala…., bisa diumpamakan seperti cost and benefit analysis dalam setiap pengambilan keputusan, hehe. Dalam sisi manfaat, harta kekayaan baiknya digunakan dalam konteks ibadah, seperti: zakat, haji, dan jihad fisabilillah (berjuang di jalan Allah). Hal ini juga tertuang dalam surat Al Hujarat:15, disebutkan :

.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu dan mereka berjuang dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar (Al Hujara:15).

.

Dalam sisi mudharatnya, Allah juga mengingatkan bahaya harta bagi manusia yang tertuang dalam surat Al Munafiquun:9, disebutkan:

.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi (Al Munafiquun:9).

dunia-akhirat

Dunia ini sepertinya akan menjanjikan keberkahan bagi yang senantiasa dekat dengan Allah, namun sebaliknya dunia akan memperbudak manusia yang lalai terhadap Allah. Bagi manusia yang senantiasa mengingat Allah dalam niat dan aktivitasnya, yaitu selalu menjaga diri agar seluruh energi dan konsentrasi yang dimiliki semata-mata untuk Allah. Dengan kata lain, bagaimana menjaga niat semata-mata karena Allah SWT. Maksudnya, menjaga niat untuk beramal seoptimal mungkin di dunia guna memanen hasil di masa depan akhirat.

.

Aku mencoba menerapkan perintah Allah tersebut. Sebagai contoh saat bekerja: Jujur, pada awalnya niat paling utama bekerja di BL adalah bukan karena gaji. Beneran loh ini, cius! Bagiku, gaji itu adalah niat sekunder. Kalaupun aku mengejar gaji, dari dulu aku akan berjuang semangat 45 bisa diterima bekerja di perusahaan multinasional ex. IBM, Accenture, Nielsen, BCG, EY, PWC, Samsung R&D, dll. Aku ingin bekerja dimana kontribusi yang aku lakukan bisa langsung aku rasakan manfaatnya bagi orang lain dan aku mendapat ilmu yang banyak, as simple as that. Aku percaya bahwa gaji akan meningkat seiring waktu dan skill yang dimiliki seseorang selama orang tersebut senantiasa mau belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Ada intuisi dan keyakinan dalam diri ketika pertama kali mendapatkan tawaran bergabung di BL. Namun risikonya, aku akan menerima fasilitas dan kompensasi yang lebih kecil dari tempat bekerja sebelumnya. Hal ini sempat menjadi perdebatan antara aku dengan kedua orang tuaku. Pada awal-awal berkerja di BL, mereka melihatku seperti tidak memiliki karir yang menjanjikan di masa depan. Segala keraguan yang dilihat orang tua, aku harus buktikan karena aku yakin dengan apa yang aku putuskan dengan melihat peluang, perhitungan dan prediksi BL di masa depan. Kini Bukalapak sudah menjadi perusahaan yang bisa dikatakan semakin baik dan semoga semakin baik lagi. Aku senang menjadi bagian dari perjalanan dan pertumbuhan BL. Aku juga merasa bersyukur beberapa tahun bertahan di BL telah membuahkan hasil, dimana: aku bekerja tidak hanya mampu bermanfaat bagi orang lain, tetapi banyak sekali ilmu dan teman yang aku peroleh, dan gaji maupun fasilitas yang lebih dari cukup. Yang paling berkesan tidak terlupakan ketika aku mendengar respon pelapak (dyansyah). Aku selalu ingat senyum ketulusan dari keluarga sederhana itu dimana 2-3 kali tanpa disengaja aku bertemu dia bersama anak-anaknya. Dyansyah mampu membeli rumah dan membiayai operasi anaknya yang sakit jantung bocor dari hasil keuntungan berjualan online. Jadi balik lagi ke pertanyaan niat hidup dalam bekerja: Aku bekerja untuk apa yah? Mendapat ilmu sebanyak-banyaknya atau menabung agar uangnya bisa diivestasikan untuk hal produktif lain atau menanti gaji di akhir bulan atau mengumpulkan bekal pahala di akhirat atau atau memperluas pertemanan agar membuka rezeki baru yang lain atau hal lain apapun itu terserah aku, hehe :p

.

Contoh lain misalnya, bila ada dua orang yang masing-masing mempunyai uang senilai ratusan juta, orang pertama digunakan untuk berdagang dan orang kedua menggunakan untuk membangun masjid. Lantas apakah dapat disimpulkan orang kedua adalah orang yang mengabdi kepada Allah? Ya, belum tentu. Sangat mungkin orang pertama yang lebih mengabdi kepada Allah sebab niatnya karena Allah dan digunakan untuk menafkahi keluarga, selalu shalat, dan membayar zakat. Orang kedua tergolong orang yang lalai karena niatnya ingin menarik simpati masyarakat dalam rangka pemilihan umum.

.

Ok sekian tulisan kali ini. Tulisan ini bukan bermaksud mengajari atau sok-sok-an, tulisan ini adalah sebagai pengingat diri sendiri sebab masih banyak yang perlu diperbaiki, salah satunya menjaga stabilitas niat menuntut ilmu karena aku lagi males-malesan belajar, haha. Semoga tulisan ini bermanfaat & ayo semangat UTS! #eh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: