Mengajar

Pernahkah kamu merasa kehadiranmu sangat dinantikan anak kecil? Sekitar seminggu lalu, Ibuku mengatakan bahwa aku dicari Andaru (keponakanku yang paling ganteng usianya sekitar 4,5thn). Kata Ibu pesan dari Andaru, “Tante Renny mana eyang, ko lama gak ke sini?”. Indah bukan, hehe ^^ Ada perasaan bahagia ketika kehadiran kita sangat dinantikan oleh orang lain yang kita sayangi. Hal tersebut menandakan, kita memiliki kesan positif di mata mereka, ya dirindukan. Kalau mereka tidak menyayangi kita, itu artinya mereka tidak senang atau cuek terhadap kehadiran kita.

.

Aku jadi teringat kisah lain. Dulu ada anak kecil namanya Rara. Dia tinggal di samping rumah orang tuaku sejak dari lahir sampai usia kira-kira 3 tahun. Ibuku sosok wanita yang paling berbakat memikat hati anak kecil alhasil Rara itu sudah seperti anak ketiga di rumah. Rara senang menantikan aku pulang dari kampus saat sore hari. Dia suka berlari-lari kecil dari ujung rumah sambil berteriak “Mbak Renny! Mbak Renny!”, kemudian dia menjemputku padahal aku baru jalan kaki beberapa meter sejak turun angkot, haha Anak kecil memang lucu, polos, bebas, dan tanpa beban yah.

.

Berlanjut ke kisah Andaru. Hari itu aku mengunjungi rumah Mas Agung (kakakku) dan membawa donut Jco. Beberapa detik saat aku membuka gerbang tralis besi depan rumah, terdengar suara Andaru yang ramai, yaitu: “Tante Renny, tante renny, tante renny…!”. Pintu depan rumah dibukakan oleh Andaru. Aku berikan donat kepadanya. Aku disambut dengan wajah keceriaan bocah kicik, salim tangan kanan, dilanjutkan cium pipi sampe puas, haha. Dia girang bukan main. Buatku, saat itulah moment yang paling berharga. Well, keceriaan anak kecil buatku selalu menjadi obat penawar. Kenapa? Biasanya aku bermain dengan Andaru saat aku sakit yang berasal dari pikiranku yang butek karena masalah orang dewasa, hahaha :p Setelah bermain dengannya, alhamdulillah kejiwaanku menjadi lebih damai dan lebih cerah. Hal ini sudah sering kali aku lakukan sejak Andaru lahir hingga sekarang. Memang keceh banget yah anak kecil, hehe.

.

Saat aku berkunjung, Andaru sedang belajar menulis huruf (ditemani Ibuku). Akhirnya kita bertiga belajar bersama. Ada sebuah kejadian menarik hari itu yang mungkin bisa jadi bahan renungan bagi diri sendiri. Well, mengajar anak kecil itu berbeda dengan orang dewasa dan itu sulit. Kita tidak boleh mengukur kualitas anak-anak dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan. Kita harus sabar, penuh pengertian dan penuh trik psikologis bernilai positif. Kita sebagai calon orang tua baiknya tidak boleh membuatnya tertekan dengan nada ancaman ketika mereka melakukan kesalahan. Pada kondisi ini kita dibutuhkan kemampuan berbicara dengan kata-kata yang baik, ramah, dan membangun/merangsang agar maju atau bukan malah menjatuhkan mentalnya hanya karena melakukan kesalahan kecil. Mental anak kecil itu belum sekuat orang dewasa dan perasaan mereka itu sangatlah sensitif. Pengalaman yang tidak baik saat kecil, akan berdampak pada pembentukan karakternya saat dewasa nanti.

.

Aku pernah membaca artikel tentang ilmu otak yang membuktikan otak manusia itu tidak statis, kadang bisa mengerucut atau sebaliknya. Semua itu tergantung dari pesan yang diterima, apakah bersifat ancaman/ketakutan atau dukungan positif yang diperoleh dari sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, namun sebaliknya juga dapat menurun menjadi bodoh. Sepertinya ini bisa jadi evaluasi pribadi kalau aku pastinya pernah mengeluarkan kata yang menyakiti orang lain, astaghfirullah & maapkeun >.< Ini juga bisa jadi catatan kecil di masa depan ketika mengajar anak-anak atau berinteraksi dengan orang lain, baiknya dengan mendorong kemajuan bukan menabur kata hinaan bernada ancaman atau ketakutan.

.

Renungan lain dari hasil mengajar bocah kicik adalah: kita tau pada umumnya predikat prestasi itu dilihat dari angka-angka di rapor meskipun itu semu. Ada bagian lain yang tak kalah penting, yaitu pemahaman akan esensi & prosesnya saat menuntut ilmu yang pada akhirnya menentukan keaslian dan kualitas prestasi individu. Sebagai contoh Andaru yang sedang menulis huruf A. Kita semua paham bagaimana menulis huruf “A”, yaitu garis kiri dari pangkal atas ke bawah, lalu garis kanan dari pangkal atas ke bawah, kemudian garis tengah horizontal. Andaru sebenarnya sudah bisa menulis huruf A tetapi dia sudah berkali-kali melakukan kesalahan. Misalkan, membuat garis horizontal terlebih dahulu atau dimulai garis tegak dari bawah ke atas, dll. Well, itu gak salah, bahkan bisa dikatakan Andaru sudah mendapat nilai 100 berhasil membuat huruf A. Tetapi, apakah prosesnya sudah benar? Tentu saja tidak. Sama halnya jika kita mendapat nilai 100, apakah kita paham esensi ilmunya atau sekedar menghapal cara menjawab yang benar. Itulah yang namanya proses pembelajaran. Terkadang untuk menjadi orang pintar/cerdas dan berkarakter itu memang perlu menjadi orang bodoh terlebih dahulu.

IMG_20160311_170958

Selesai menemani Andaru belajar, kita makan donat bersama. Selesai makan donat, Andaru memintaku untuk membacakan buku cerita dongeng dalam bahasa inggris yang memiliki efek suara. Ini buku ko keren banget yaak, hahaha Sebelum aku pulang, aku akhiri pertemuan hari itu dengan selfie bersama. Andaru bilang, “Kata bunda, kalau difoto tuh senyum terus mingkem“. Ini dia fotonya, uhuk hehe Peace, love & happy!  ^^

with andaru

Akhir kata, demikianlah kisah menarik yang sekiranya bisa bermanfaat bagi yang membacanya. Semoga catatan ini bisa jadi catatan kecil di kemudian hari ketika aku mendidik anak-anakku tersayang. Amiin & semangat!🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: