Cinta Allah

Ayat yang pertama kali disampaikan kepada manusia adalah anjuran untuk membaca. Dengan membaca, kita akan mendapatkan wawasan/ilmu. Ilmu itu tidak seperti uang yang disimpan di dompet atau seperti buku yang mungkin disimpan di rak buku. Tetapi Ilmu itu letaknnya di hati. Karena jika Allah memberikan rezeki berupa ilmu kepada manusia, maka tempatnya adalah di hati yang tidak butuh lemari atau kunci. Sehingga ilmu itu terjaga dalam hati, pikiran, dan raga. Di saat yang bersamaan pula, ilmu itu bisa menjadi penjaga manusia dari perkara yang buruk.

Sering kali aku berkonfrontasi dengan beberapa pihak termasuk orang tuaku karena perbedaan sudut pandang. Aku tidak menyalahkan adanya perbedaan pendapat, karena sudah pasti ilmu yang aku miliki berbeda dengan ilmu yang diyakini oleh pihak lain & bukan berarti ilmu yang aku pahami adalah yang paling benar karena pengalaman hidupku lebih sebentar daripada orang yang lebih kaya pengalaman hidup. Ketika kita dihadapkan pada berbagai pilihan tak tau mana yang paling benar atau salah, mungkin disaat itu pula aku cenderung memilih jalan aman dengan keputusan yang lebih mencintai Allah (dasar utama berdasarkan Al Qur’an & hadist) yang kemudian baru digabungkan dengan konsep ilmu non-agama. Aku sadar ilmu agamaku setitik bahkan belum maksimal mengamalkan ajaran-Nya. Tetapi hanya ilmu agama yang bisa membawaku pada kesuksesan di dunia & akhirat. Ilmu selain agama? Sudah dipastikan kesuksesannya bersifat sementara, yaitu dunia. Video di bawah ini  bisa jadi renungan bagi kita semua:

Baru aku sadari, beberapa keputusan yang pernah aku lakukan karena aku lebih mencintai Allah ketika dihadapkan perkara di dunia. Well, terkadang dampak dari keputusan yang aku pilih tidak bisa dirasakan hasilnya secara langsung dan saat itu juga (terkadang baru beberapa tahun kemudian atau mungkin di akhirat), tetapi aku selalu percaya Allah menepati janjinya atau tidak ingkar meskipun bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.

Tetapi yang namanya manusia itu makhluk lemah. Tak menutup kemungkinan imanku sedang menurun sehingga lalai, salah, dan lupa diri. Mungkin langkah yang tepat supaya iman tetap terjaga adalah bergaul dengan orang-orang baik & shaleh (senantiasa berada di lingkaran orang lurus). Sehingga jika aku salah, akan diluruskan atau dinasehati atau dimotivasi, bukan dijauhi atau dimusuhi. Aku bersyukur punya beberapa sahabat baik yang benar-benar sahabat telah menuntunku kepada kebaikan. Makasih yaa Allah, alhamdulillah. Aku cinta kalian karena Allah.

Screen Shot 2016-05-17 at 5.41.48 PM.

Satu tanda “ke-mukmin-an” seseorang adalah semakin rumit perjuangan yang dihadirkan. Kita sebaiknya yakin bahwa pertarungan tak pernah lebih rumit dari kemampuan (QS 2:286)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: