Hadiah

hadiah

Memberi Hadiah Itu Perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan cara bagus menjalin hubungan. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تهادوا تحابوا

Salinglah memberi hadiah niscaya kalian saling mencintai.

(HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, hasan. Lihat Shahih Al Adab Al Mufrad, 1/221)

.

Memberi hadiah juga cara bagus menghilangkan permusuhan. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تَهَادَوْا، فَإِنَّ الْهَدِيَّةَ تُذْهِبُ وَغَرَ الصَّدْرِ

Salinglah memberikan hadiah, sesungguhnya hadiah itu bisa menghilangkan amarah dan melapangkan dada.

(HR. Ahmad No. 9250. Syaikh Syuaib Al Arnauth: hasan)

.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun juga menerima hadiah. Sejarah nabi menunjukkan, Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menerima hadiah, baik dari para sahabatnya atau negeri lain. Abu Jahm pernah memberinya hadiah mantel. Dari ‘Aisyah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat memakai pakaian berbulu yang bergambar, lalu dia bersabda: “Gambar-gambar ini mengganggu pikiranku, kembalikan ia ke Abu Jahm, tukar saja dengan pakaian bulu kasar yang tak bergambar.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

.

Memberi hadiah hendaknya dengan sesuatu yang halal bukan haram. Tidak harus mewah, mahal, ekslusif, dan wow. Yang penting halal. Halal di sini, baik secara zat, dan juga cara memperolehnya. Maka, jangan berikan saudara kita khamr, barang curian, dan sebagainya. Menerima hadiah juga jangan asal terima, tolak jika haram. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

…. dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al Maidah: 2)

Hati-Hati Risywah (suap/sogok). Jika ada yang memberi hadiah tapi ada udang dibalik bakwannya tolak aja. Walau diistilahkan dengan hadiah, atau istilah lain yg mengaburkan hakikatnya. Memberikan hadiah, karena tahu anaknya tidak akan naik kelas. Memberikan hadiah, karena NEM anaknya rendah agar masuk SMA unggulan. Memberikan hadiah kepada orang dalem, karena tahu dirinya kalah bersaing masuk PNS/TNI/POLRI. Dan masih banyak cth lainnya. Risywah yang bagaimana sih? Disebutkan dalam Al Mu’jam Al Wasith:

ما يعطى لقضاء مصلحة أو ما يعطى لإحقاق باطل أو إبطال حق

“Sesuatu yang diberikan agar tujuannya terpenuhi, atau sesuatu yang diberikan untuk membenarkan yang batil, atau membatilkan yang haq.” (Al Mu’jam Al Wasith, 1/348. Dar Ad Da’wah)

Jadi, segala macam pemberian dalam rangka menggoyang independensi seseorang dalam bersikap dan mengambil keputusan, itulah risywah. Akhirnya, pemberian itu (uang atau barang) yang menjadi penggerak sikapnya, bukan karena kebenaran itu sendiri. Sehingga yang layak menjadi tersingkir, yang buruk justru terpilih. Haq menjadi batil, batil pun menjadi haq.

.

Tulisan: Farid Nu'man Hasan, semoga bermanfaat! :)
Join Channel Majelis Ilmu Farid Nu'man: bit.ly/1Tu7OaC

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: