Category Archives: Catatan

Great Virtue

christian_virtue

What does being honest mean? Being honest means to tell the truth even when you have opportunities to lie. Being honest means doing the honest thing even when no one sees. Being honest means being truthful to one self and others at all times, no matter what.

What does being kind mean? Being kind means doing something for other people, even the people don’t know well. Being kind means helping others without hoping for anything in return. Being kind means making the world a better place for others.

What does being loyal mean? Being loyal means being there for someone no matter how hard it is. Being loyal means being committed to the promises that you have made before. Being loyal means never to let someone down even in the darkest hour.

What does being persistent mean? Being persistent is keep on trying even when the last attempt didn’t succeed. Being persistent is striving to achieve your dream against all odds.

What does being patient mean? It means you are willing to wait for something good, and don’t expect instant results. It means that you realize that everything has its own time. It means that you understand that it takes time to achieve something extraordinary.

What does being smart mean? It means you always think ahead and be prepared. It means that you observe your surrounding to collect as much information as possible and use them accordingly. It means knowing what to do in any circumstances.

What being diligent mean? Being diligent means working harder and giving more than expected. Being diligent means doing what you have to do and more without being told. Being diligent means practicing self-control and giving time and energy to do more for other people.

What does being proactive mean? Being proactive means thinking ahead and doing something before it’s too late. Being proactive means controlling the situation instead of being controlled by it. Being proactive means thinking of ways to make better without being asked.

What does being open minded mean? It means that you are willing to try new things. It means that you understand that everyone is possible (even when they seem impossible). It means that you appreciate and willing to embrace differences.

What does being grateful mean? It means being thankful for your condition whatever they are. It means knowing that God will provide what you need and not what you want. It means realizing that there are many who are less fortunate that you are.

*note to my self*


Biasakan

Awali dengan basmalah, menyapa dan memasuki tempat dengan ucapkan As-salamu’alaykum, isi waktu luang dengan istighfar, dan menenangkan hati dengan baca Al Qur’an, kaya dengan bersedekah, belajar dengan dipahami.

*note to my self.


Tadabbur

al-quran.jpg

Semakin sering membaca Al Qur’an, semakin sering memahami tafsir dari ayat demi ayat Al Qur’an, semakin hanya bisa menangis & merasa kita manusia yang tak berdaya…

Yaaallah, maafin aku…

‘Astaghfirullahal’adzim, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaih’


Saat mencapai umur 28 tahun, aku…

Saat mencapai umur 1 tahun, aku dalam belaian, manjaan dan perlindungan kasih sayang keluarga.

Saat mencapai umur 2 tahun, aku selalu menirukan hal-hal yang diajarkan oleh orangtuaku dan mas agung (kakakku).

Saat mencapai umur 3 tahun, aku merasakan berbagai usilan-jahilan kakakku padaku yang kadang aku tidak suka dan bahkan sampai aku menangis.

Saat mencapai umur 4 tahun, aku belajar membaca, menulis, bernyanyi, menari.

Saat mencapai umur 5 tahun, aku iri dengan teman-temanku yang selalu dijemput, dirapihkan+disipakan segala macam ketika sebelum/selesai berenang. Sedangkan aku? Sendiri.

Saat mencapai umur 6 tahun, aku menjadi pemimpin paduan suara di TK, ketua pemimpin gerak jalan, pemimpin upacara 17 agustus dihadapan murid TK sekecamatan Cilandak. Aku sempat mengatakan kepada ibu “bu nilainya renny 9 kan yaa, soalnya tadi sempet salah ngucap 1 x (means 10-1 kesalahan = 9…hahaha dodol)” . Selain itu, aku mengikuti pentas menari & menjadi murid TK teladan.

Saat mencapai umur 7 tahun, aku belajar tanggung jawab atas barang milik orang lain. Aku ikut serta dalam pentas menari di sekolah. Aku diomelin oleh kakak kelasku karena lupa mengembalikan kostumnya dan tertinggal di ruang uks beberapa hari.

Saat mencapai umur 8 tahun, aku merasa kecewa karena nilai matematikaku 0, lalu diomelin sama ibu. Aku belajar memaafkan dan menjaga hubungan baik antar teman. Kenapa? Aku pernah tidak sengaja tabrakan dengan temen sewaktu maen tak jongkok dan dia terluka.

Saat mencapai umur 9 tahun, aku punya ingin menjadi seorang dokter atau guru seperti ibuku. Aku membuka taman bacaan di samping rumah yang disewa Rp.50,-/majalah. Aku berjualan permen dan es lilin yang dibuat sendiri. Aku bermain layangan yang dibuatkan oleh mas Agung. Kita bermain di atas mesjid atau di atas rumah sampai matahari sudah tidak menampakkan cahayanya. Keliling kampung antar RT naik sepeda bersama teman-teman. Aku membuat tas-tas dari kardus bekas untuk digunakan bermain ibu-ibuan/masak-masakan.

Saat mencapai umur 10 tahun, aku punya mimpi sekolah di luar negeri dan menjadi astronot. Aku sering mengajari bocah-bocah sekitar rumah untuk menulis-membaca-berhitung-mengaji-shalat bersama dengan bermain sebagai guru & murid.

Saat mencapai umur 11 tahun, aku memilih sesuatu yang lebih baik dan berguna untuk diriku, yaitu dengan keluar dari geng cewek-cewek di sekolah.  Selain itu, aku pernah difitnah oleh guruku sendiri dihadapan murid-murid kelas lain, sungguh aku malu sekali.

Saat mencapai umur 12 tahun, aku ingin menjadi anak baik & berprestasi seperti kakakku (mas Agung). Dia adalah abang gw yang paling keren-ganteng. Tapi sayangnya lu itu kadang nyebelin, hehe Tetapi gw tetep sayang sama lu masbro 🙂

Saat mencapai umur 13 tahun, aku menjadi anak SMP yang kuper (sekolah-pulang-belajar-sekolah-pulang-belajar).

Saat mencapai umur 14 tahun, aku dilema antara kepentingan bermain basket dan belajar (sekolah). Nilai rapotku turun dan diomeli oleh kedua orang tua. Aku sedih, ketika tidak diikutsertakan oleh pelatihku untuk bergabung di pertandingan basket tingkat nasional, padahal aku sudah rajin latihan.

Saat mencapai umur 15 tahun, pertama kalinya nolak cowok. Alasannya? Aku mau belajar untuk masuk SMA unggulan. Orang tuaku tidak mengizinkanku sekolah di SMA 8 atau 70 dengan alasan jauh. Kebetulan abangku juga almamater 34, jadi aku mengikuti jejaknya saja.

Saat mencapai umur 16 tahun, aku punya tekad menjadi juara kelas supaya masuk UI tanpa tes seperti abangku. Aku bergabung di ekskul mading sekolah dan diomelin senior karena males nyari tanda tangan, haha Aku kembali bergabung di tim basket sekolah. Kebetulan teman-teman basketku saat SMA, juga berasal dari SMP yang sama denganku.

Saat mencapai umur 17 tahun, masa terindah : persahabatan & kompak. Sering sekali memenangkan berbagai kompetisi basket di tingkat Jakarta bahkan nasional. Aku memiliki banyak teman di dalam dan luar sekolah.

Saat mencapai umur 18 tahun, terima kasih kepada Allah yang memberikan hidayah dalam menentukan masa depan kuliah. Terima kasih kepada teman-teman seperjuangan menggapai masa depan kuliah (hidup! xii.ipa-1 yang duduk barisan paling kiri). Aku merasakan tangisan bahagia orang tua karena anaknya diterima di UI tanpa tes sama seperti kakaku, itu rasanya surga ^^

Saat mencapai umur 19 tahun, aku merasakan lingkungan perkuliahan yang sangat berbeda dengan masa SMA. Terlalu banyak orang pintar, cerdas, rajin dan paling menyebalkan adalah orang dengan ego individualis. Aku stress di Fasilkom.

Saat mencapai umur 20 tahun, mulai berpikir & muncul jiwa-jiwa idealis. Aku ingin menjadi apa? Kuliah sulit & kurang minat (khususnya programming).

Saat mencapai umur 21 tahun, aku merasakan semakin memiliki banyak peran, semakin besar tanggung jawabnya. Satu periode yang lebih mengorbakan kepentingan umum dari pada kepentingan diri sendiri. IP semester enam yang paling rendah dari semua semester. Alhamdulillah juga, aku mendapat hidayah menggunakan jilbab.

Saat mencapai umur 22 tahun, aku mengalami satu step dalam hidup yang tidak terlupakan, yaitu “kedewasaan, ikhlas, bijaksana, sabar” dalam menyikapi persoalan. Makasih semua yang sudah menemaniku disaat susah. Aku belajar tentang komitmen & kesetiaan, itu harganya sangat mahal.

Saat mencapai umur 23 tahun, aku hanya fokus pada satu hal : lulus predikat cumlaude. Semua ini aku persembahkan untuk kedua orangtuaku tercinta & tersayang. Alhamdulillah tercapai 🙂

Saat mencapai 24thn, aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku merasa selama ini, hidupku terlalu terpaku sama sosok my older brother yang paling keren. Aku meninggalkan zona nyaman tetapi fokus kepada hal-hal yang aku cintai (kepuasan batin tercapai). Mencari pekerjaan yang dapat mendukung life management plan in the future.

Saat mencapai 25thn, fokus pada 2 hal :  1. Masterpiece 2. Menemukan rencana hidup yang baru menurut panggilan jiwa. Aku ingin S2 di business school.

Saat mencapai 26thn, tiada hari tanpa : belajar, bermain, bereksperimen, bekerja, bergaul, bermanfaat, dll (kerja, toefl, gmat, les, dll). Bersyukur memiliki ortu & brother yang punya hati mulia karena memberikan hadiah gak kira-kira, alhamdulillah.

Saat mencapai 27thn, Ini ajaib! Aku bertemu seseorang teman yang berhasil mengalihkanku dari bayangan seseorang di masa lalu selama 3thn terakhir.

Saat mencapai 28thn, mengalami beberapa peristiwa perang hati-batin-makhluk: ada yang datang tanpa diundang +/- 10thn terakhir, ada yang pergi, ada yang meninggal, hiks. Hijrah mendekatkan diri ke Sang Maha (kuliah) Itu semua takdir, mungkin itu cara Allah menegurku dan memberikan hidayah kepadaku, alhamdulillah.

Dedicated to : Orang-orang hebat & tersayang yang selalu menemaniku 🙂


Enric*

Dia…

Yang hobi tidur 4 jam sehari.
Taat, taat pada agamanya & tidak pernah menyontek.
Cerdas, pintaaaaaar sekali.
Ulet, rajin belajar & suka membaca buku.
Mandiri, tidak suka bergantung pada orang lain.
Ramah, suka tersenyum (senyumnya seperti di foto bawah)
Pemimpi, namun realistis & tegas dengan cita-citanya.
Kuat, tidak suka mengeluh.
Sederhana, santun yang ndak kebanyakan gaya meskipun dari keluarga kaya.
Rendah hati, tidak sombong meskipun punya potensi untuk sombong.
Aku tuh dulu minder dengan semua hal yang kamu miliki. Tetapi kamu selalu rendah hati dan bilang itu punya orang tuamu lah, itu karena Allah lah, dll.
Memang calon abang yang bisa jadi contoh baik bagi adek-adeknya, calon suami yang bertanggung jawab bagi keluargamu nantinya.

.

Aku pernah bertanya padanya. Kenapa namamu modern & gaul sekali?
Namanya memiliki doa, kelak menjadi seorang ilmuwan.
Ya, aku percaya dan dia telah membuktikannya selama ini. Diterima di UI melalui jalur PMDK tanpa test, IPK peringkat ke-2 se-UI, kuliah dengan beasiswa untuk jenjang PhD (S3) tanpa melewati S2 di kampus terbaik Singapore (NUS), magang di Intel – US, presentasi papernya di beberapa negara.
Aku percaya suatu hari nanti dia akan menjadi putera terbaik bangsa yang bermanfaat bagi banyak orang.

.

10 Juni 2016, Allah punya rencana terbaik.
Masya Allah, hari Jum’at dan bulan Ramadhan.
Aku yakin, kamu datang dalam bayang-bayang di depan pintu kosanku menjelang sebelum kepergianmu.
Ya, 2 hari itu, ketika aku shalat pagi. Aku yakin itu kamu.
Kamu mau pamit kan & mau minta maaf kan.
Beberapa minggu sebelum kamu pergi, Allah telah membisikkan hatiku untuk menghubungimu. Aneh sekali tiba-tiba aku kepikiran kamu. Ada apa denganmu?
Ternyata itu terakhir kita berjabat tangan di dunia maya setelah terakhir aku bertemu denganmu saat wisuda September 2011 lalu.
Dan Sabtu pagi itu adalah hari terakhir aku melihatmu. Tetapi aku melihatmu dengan air mata, co.
Aku sedih, kamu kurus banget, co.
Karena takdir, kita belum bicara banyak. Padahal aku ingin sekali datang di hari pernikahanmu nanti.

.

Terima kasih banyak ya, co.
Sosokmu secara tidak langsung telah mengajari aku mencintai Allah, menjadi orang bermanfaat, dan berusaha membahagiakan orang tua.
Aku pakai jilbab, aku punya mentor agama, aku ikut liqo, aku aktif di beberapa kegiatan kampus, aku rajin belajar, dll.
Kamu pernah beberapa kali bantuin aku ngerjain tugas kuliah programming yang aku ndak ngerti. Kamu yang bikin aku tenang ketika aku panik memperjuangkan nilaiku untuk kuliah Matematika Diskrit. Selama kuliah, tidak pernah aku bisa mengalahkan nilamu yang selalu lebih baik dariku. Kita nge-gahul baca buku bareng di gramedia. Kamu yang mnemenin aku di telepon ketika aku sakit bahkan sampai aku dirawat RS. Liburan kita yang jalan-jalan sore di monas. Pulang naik angkot bareng setiap selesai kuliah. Dan semua kenangan kita.
Sudah tertulis di catatan Allah, aku pernah menjadi bagian dari hidupmu di dunia.
Terima kasih ya, co.
Maafin aku ya, co.
Doaku yang terbaik untukmu.
Allah sayang banget sama kamu.

1931313_43796896051_5566_n


The Biggest Enemy

I says, “the biggest enemy is my self. It’s not others. Do not be afraid of anything. Do not stress myself too much. Do not be disappointed with what I get. Myself is tough. When I see it, first I need to love it. I cannot hate it. I have to treat it as a wild horse. I need to make friends with before i can domesticate and control the horse. Semangats! 🙂


Terima kasih

terima kasih

Well, aku jadi lebih sering menulis sejak ada tugas kuliah (Managing People in Organization), yaitu menulis weekly diary/journal essay sampai dengan UTS. Tugasnya apa? Membuat essay diary harian tentang evaluasi diri. Isi tulisannya adalah tentang pelajaran hidup dikaitkan dengan masa lalu bahkan masa kecil ketika berhubungan dengan orang lain kemudian apa yang bisa aku perbaiki sekarang. Hampir setiap minggu aku telah menulis rata-rata >10 halaman. Lama-lama bisa jadi buku chicken soup juga deh ini? Wkwkwkwk…

.

Oke, i want to share my old story. Starting from my mother & when i was a child. Ibu adalah orang yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter aku dan kakaku. Sebagai contoh, Ibuku sering memberikan hadiah jika anak-anaknya berhasil mendapatkan ranking yang bagus seusai pembagian rapor. Ibuku selalu mendidik anak-anaknya memberikan hadiah/reward daripada hukuman/punishnment selama mendidik anak. Hadiah yang diberikan tidak harus mahal, hadiah yang jarang atau belum pernah aku miliki atau nikmati. Contoh beberapa hadiah yang pernah dia berikan diantaranya, burger abang-abang gerobak keliling, makan KFC, makan pizza hut, buku, boneka barbie, tempat makan tupperware, baju baru, ice cream, sepeda, dll.

.

Pada suatu hari yang sangat penting, kami dalam perjalanan pulang dari sekolah. Waktu itu usiaku 9 tahun (kelas 3 SD). Aku berharap dan berdoa agar hari ini Ibu memenuhi janjinya untuk membelikanku burger abang-abang gerobak keliling di depan sekolah karena aku mendapat ranking dua di kelas. Tawarannya pun tiba. “Renny mau burger kan hari ini?”. Kemudian aku mengiyakan dari pertanyaan tersebut. Tetapi kemudian Ibuku berkata, “Ibu juga mau. Bagaimana kalau Renny yang mentraktir Ibu hari ini?”

.

“Sepuluh ribu yah harganya”, aku diam termenung. Aku bisa ko mentraktirnya. Uang jajanku sepuluh ribu seminggu, biasanya aku selalu sisihkan empat ribu (Rp4.000) seminggu untuk ditabung karena aku sekolah dalam seminggu itu 6 hari (Rp6.000). Aku jajan setiap hari menghabiskan Rp.1.000,-. Tetapi menabung itu penting, Ibu sendiri yang bilang bahkan membelikanku celengan untuk senantiasa diisi dan ketika sudah penuh akan dibuka bersama dengan rasa penuh kebahagiaan dan rasa penasaran untuk menghitung berapa jumlahnya. Dan kalau yang dipakai uangku untuk memenuhi permintaanya, burger itu hanya menghambur-hamburkan uang saja.

.

Mengapa waktu itu tak terpikirkan olehku bahwa ini adalah kesempatan emas untuk membalas kemurahan hatinya? Mengapa tak terpikirkan olehku bahwa ia sudah membelikanku segala macam sampai pada waktu itu. Dan aku tidak pernah membelikannya satupun? Tetapi yang terpikir olehku hanyalah “Rp.10.000!”

.

Dengan memendam perasaan egois, pelit, dan tak tahu terima kasih, aku mengucapkan kata buruk yang terus terngiang di telingaku sampai hari ini, “Tetapi Renny ndak bawa uang Rp.10.000, bu. Makan burgernya lain kali saja ya, bu.” Ibuku berkata, “Oke”. Namun karena Ibu sudah berjanji, akhirnya Ibu yang membelikanku burger saat itu juga. Aku merasa tidak enak karena sikap egoisku dan tak tahu terima kasih. Tetapi selama di perjalanan pulang, aku menyadari betapa salahnya aku dan ingin memohon kembali, “Renny yang bayar yah, bu”. Ia tidak menyebut hal itu lagi, dan juga tak terlihat kecewa. Tapi justri sikap diamnya itulah yang meninggalkan kesan begitu dalam bagiku.

.

Aku belajar bahwa kemurahan hati itu adalah jalan dua arah, dan rasa terima kasih kadang-kadang harganya lebih dari “terima kasih”. Pada hari itu, rasa terima kasih mungkin harganya Rp10.000 dan burger yang aku makan itu pastinya burger yang paling enak sedunia. Mengucapkan terima kasih, hal yang sepele tetapi merupakan suatu tindakan penghormatan atau penghargaan terhadap seseorang yang telah berperilaku baik terhadap kita. Sejak kejadian tersebut, aku senantiasa berusaha mengucapkan terima kasih ketika memperoleh hal yang baik dari orang lain. Sesuatu kegiatan yang biasa jika terus-menerus dilakukan pasti tanpa sadar akan menjadi kebiasaan, apalagi ini kebiasaan yang baik.

.

Ada satu hal kejadian beberapa bulan kemudian di hari ulang tahunnya pada bulan Juli, aku memberikannya dia hadiah. Hadiah itu berupa amplop berisi uang Rp 10.000,- Hahaha.